kedua puluh,
berubah kepala menuju dewasa,
berubah impian jadi tindak nyata,
berubah sendiri menjadi ada.
kisikan otak,
tahu yang harus ditahu,
fikir yang wajib difikir,
pandang luas tatap depan jarak.
akbar ilham manangkasi,
ingat melati di sampingmu,
sadari tiap detil salahmu,
putar sudut pandangmu,
rubah pola pikirmu,
dewasalah.
diam terluka,
tatih berduka,
ingat didepan ada cahaya,
menunggu usaha untuk mengejarnya.
cebi-20tahun-20november2009-bandung
ujung lengkung muka,
tergambar kedua menuju sana.
i'll trust him to take me anywhere,
dan saya tersenyum bahagia.
ily ardwina,
cebi-15november2009-bandung
menatap,
raut tatap tipis tajam bertatap,
bertengkar.
biar aku,
biar aku,
biar aku saja,
bertengkar.
kecil memupuk besar,
besar membesar,
bertengkar.
titik koma,
tebal miring,
garis bawah,
bertengkar.
cebi-11november2009-bandung
hening,
tubuh menguning,
menunggu kesabaran habis berbising.
ketika rasa sudah tak ada lantas bicara,
ketika getar sudah tak rasa lantas bicara,
ketika peduli sudah tak cipta lantas bicara,
jangan kini diam dan bisu kata.
ini aku semua,
kamu anggap apa?
cebi-4oktober2009-bandung
katakan,
benar titik kata,
tanpa dusta tanpa tutupan pemudar nyata.
dan ketika semua terlambat termuka,
hanya sesal yang diterima.
cebi-4oktober2009-bandung
dan saat seperti ini selalu mengingatkan,
aku baik baik saja lebih sulit dimengerti,
dari ucapan tinggalkan aku sendiri.
cebi-27september2009-bandung
worth to worth,
nilai ke nilai,
point to point,
titik ke titik,
spot to spot,
tempat ke tempat,
place to place,
taruh ke taruh,
bet to bet.
cebi-26september2009-bandung
nyawa berlubang,
berkukuh berkumandang,
beralaskan tahta perang,
dan gantungan selendang.
nyawa berlubang,
disusul titik darah tertuang,
panas terik manahari menyerang,
dan api bakaran kayu terang.
lubang nyawa,
tak satu tak rupa,
menahan luka.
cebi-26september2009-bandung
lamaku,
bergemaung berkumandang,
saya bukan tidak lancar bahasa inggris,
hanya saja saya terlalu cinta bahasa indonesia.
saya bukan tidak ingin terlihat berbaju mahal,
hanya saja saya terlalu cinta dengan kesederhanaan.
saya bukan tidak bisa menyetir mobil,
hanya saja saya terlalu cinta udara segar.
saya bukan tidak kuat untuk merokok,
hanya saja saya terlalu cinta untuk menabung sekarang.
saya bukan tidak mau bekerja dan mendapat uang,
hanya saja saya terlalu cinta untuk hanya menyenangkan orang.
saya bukan tidak mengikuti perkembangan dunia mode,
hanya saja saya terlalu cinta dengan kenyamanan.
saya bukan tidak mampu bercerita,
hanya saja saya terlalu cinta dengan puisi.
cebi-10agustus2009-bandung
terbelalak,
kau kembali,
hingga terduduk lama,
seharusnya semua terlupa.
sirna,
hembus mint ke udara.
cebi-2agustus2009-bandung
menari tertiup pusaran,
merapi bumbung angin selatan.
tutupan menutup letup kencang,
hingga bakaran kelam,
dan jelaga menumpuk lapisan pipa pualam.
tarian tertiup pusaran,
terapi bumbung angin selatan.
kala jaya membosan hingga raih penat,
pekat cahaya merona awan kelana.
cebi-26juli2009-bandung
ketika punya dan aman dirasa,
ini yang keluar dari gerak gerik nama,
careless,
anggap saja hanya tuntutan ego semata,
dan bermain keringat otak dirasa.
tunggu sebentar,
dan rasa yang sebenarnya,
bagaimana.
cebi-26juli2009-bandung
terdengar,
janji setelah drama,
untuk melupa semua,
dan memberi seluruhnya.
tinggal dilihat saja,
mungkin bersudah jika tak terlihat nyatanya.
cebi-23juli2009-bandung
kemarin,
senyum kutitipkan padamu,
tawa kuselipkan di sudut parasmu,
dan janji kutaruh di saku kananmu.
kini,
datang,
dan tak tersedia setitik makanan dimeja,
hanya ada pipihan surat cinta terbubuh di beranda.
cebi-23juli2009-bandung
lupa,
warna putih dan hitam yang menua,
kini coklat menyelimuti semua,
angkasa,
rumput,
muka.
cebi-21juli2009-bandung
rentang udara,
jauh memisah hingga minggunya,
lintas laut lintas benua,
berbekas duduk tunggu harapan,
sendiri.
cebi-17juli2009-bandung
pesenan temen.
teruntuk,
decik bulu kuning terulang lima.
dengan suara bodoh terputar di kepala.
sungguh,
ini tak kuasa ku tempuh,
dan putaran kemelut semakin menggurat keluh.
percaya,
bahwa ini kulakukan bukan untuk apa,
ini atas dasar satu kata, cinta.
sungguh,
bisik kabar kurindu,
tanya pagi kutunggu,
ganggu malam hilang,
aku menunggu.
dan teriakan kudapat,
dan cerca maya kuterima,
dan hanya itu, itu.
bukan decak tawa,
bukan pelukan kata,
bukan pukulan canda,
bukan surat kabarnya,
bukan percik cinta.
teruntuk decik kuning,
sungguh kamar takkan pernah kusewa.
cebi-17juni2009-bandung
dan kau belajar memecundangkan dengan dicundangi,
dan kau belajar teriakan keras dengan lantang getar telinga,
dan kau belajar menyakiti dengan titik kecil iri hati,
dan kau belajar titip dosa dengan lihatan derma,
dan kau belajar memetik dunia dengan indahan rana.
dan kau belajar,
dan kau pintar,
dan kini hanya sombong yang kau lontar.
cebi-10juli2009-bandung
hingga seribu,
atau nilai juta,
maaf tak juga mengguna duka.
iris perih menyibak luka,
titik htam tak kunjung muda,
garis darah tak pudar warna.
kini sadar akan salah,
kini bodoh hanya mengawang dan terpendam,
kini maaf tak kau anggap guna.
maaf,
hingga satu ribu kali,
kulantunkan dengan hati,
dan tak kunjung ada beri.
ego bermain kata,
dan hilang makna,
tak mau bagian ingatan hilang,
kau menyala dalam sini,
berwarna.
cebi-9jluli2009-bandung
kaplet suara,
berikan ketegaran untuk temani penantian,
berikan tetes hujan dalam terik siang,
berikan hembus hangat dalam dingin malam,
berikan ikhlas dalam kepergian,
berikan bahasa perasaan dalam kebekuan,
berikan mata untuk hati,
berikan manusia untuk menemani,
berikan alasan untuk melihat dunia,
berikan cinta dalam perang,
berikan tanya untuk jawab bahagia,
berikan jalan untuk pengabdian,
berikan aku kepastian.
cebi-3juli2009-bandung
menetes,
menekan ego,
dan tekanan menutup kekekalan.
simpan tetes airmatamu,
sesekali mungkin perlu,
dan sadari hal tersadar.
yakinkan,
bahwa ada bunga layu dalam tiap tetesmu.
cebi-3juli2009-bandung
sayang,
cukup biarkan matamu tetap menutup,
bukan hal berlebihan yang akan kuberikan,
tidak ego ku gunakan,
tidak balasan kuharapkan.
ini kutahan,
dan aku tak kuat menahan,
dimana alasan untuk mengucapkan tertemukan.
sayang,
biarkan matamu tetap menutup,
dan kubisikkan.
i love you, ardwina.
*sumpah ini dangdut banget tapi saya suka :D
cebi-27juni2009-bandung
baru tersadar setelah lama ini terputar,
bisikan lima ribu lantunan,
dan ini yang mendawai selalu.
aku,
hanya untukmu,
dan sadaranku akan itu.
kamu,
masakan itu,
dan senyuman pengobatmu.
ini,
bukan masalah rasa,
bukan kriteria diri,
bukan perkara dewasa.
ini,
aku lantunkan dengan asa,
dengarkan dengan kepala,
dan rasakan dengan jiwa.
ini,
aku untukmu,
jaga kecewaku,
jaga.
[hanya untukmu - ten 2 five]
inikah rasanya,
bilaku sedang jatuh cinta,
setiap hela nafasku,
bahagia.
mengenal hatimu,
hadirkan indahnya dunia,
kau bawa irama cinta di jiwa.
semua yang ku mau,
hanyalah dirimu,
satu,
kaulah jawaban semua doa,
semua yang kurasa,
rindu dalam asa,
di dekap cinta,
hatiku untukmu.
haruskah diriku,
bertanya pada bintang-bintang,
pantaskahku mengharap cintanya.
semua yang ku mau,
hanyalah dirimu,
satu,
kaulah pelita,
di dalam jiwa,
semua yang kurasa,
rindu dalam asa,
di dekap cinta,
hatiku untukmu.
hanyalah untukmu.
cebi-26juni2009-bandung
ketika baru ada bicara,
laut tenang lantas beriak.
ketika baru ada bicara,
sungai merah berubah marah.
ketika baru ada bicara,
jernihkan otak,
dengar yang benar,
tak guna dusta diucap.
cebi-17juni2009-bandung
dan seorang lemah tidak akan berubah,
walau teman berdamping disekitaran,
dan sepasang payah tidak akan berubah,
walau umbaran coba dikeluarkan.
itu hanya membuatmu lelah,
hentikan dan tundukkan kepalamu,
sadari,
bahwa kamu,
nista.
cebi-7juni2009-bandung
baru dua puluh dua hari,
sejak awal kita duduk berdamping kiri,
bahkan panggilan kecil belum kau ketahui.
baru dua puluh dua hari,
sejak pertama mata perpandang muka,
dan tatapan beralih bicara.
baru dua puluh dua hari,
sedikit petikan kecil menarinari,
dan menyejuk hati,
baru.
cebi-28mei2009-bandung
nyawa hidupku,
kini kubagi secuil untukmu,
anggaplah kenangkenangan,
kembangkan jika kau mau.
cebi-8mei2009-bandung
coba merenung dan rasa.
[satu]
tundukkan kepala,
tutup mata,
dan rasa disekitar adalah hampa,
tanpa suara apaapa.
fikir kamu adalah makhluk Allah,
kecil,
dan lupa bersyukur.
[dua]
coba gelapkan pandangan,
lepas jiwa lepas raga,
rebahkan diri,
hadap dunia.
rasa coba yang diterpa untukmu,
dan fikir kalau dunia belum adil untukmu,
kemudian teriakkan bahwa kamu tidak sanggup.
kemudian fikir,
coba ini sebenarnya hanya sentilan,
agar tidak lupa,
bahwa ada yang diatas sana tidak tidur melihatmu,
dan memperhatikan jiwa ragamu.
[tiga]
pasang headset di telinga,
rebahkan badan,
dan nyalakan musiknya.
resapi,
kalau lirik ini ungkapan hati,
dan tangisan pelarut nadi.
[coldplay-fix you]
when you try your best but you don't succeed,
when you get what you want but not what you need,
when you feel so tired but you can't sleep,
stuck in reverse.
[maliq and d'essential-mata hati telinga]
buka mata hati telinga,
sesungguhnya masih ada yang lebih penting dari sekedar kata cinta,
yang kau inginkan tak selalu yang kau butuhkan,
mungkin memang yang paling penting,
cobalah untuk membuka mata hati telinga,
[sheila on7-lihat, dengar, rasakan]
bunda selalu tanamkan,
jangan pernah menyerah,
jalani dan panjatkan,
kelak syukur kau ucapkan,
pada diriNya.
cebi-6mei2009-bandung
banyak baru,
dan semakin sulit menunjuk keputusan,
sial.
aku bukan seperti katamu.
cebi-24april2009-bandung
have nothing to say,
have nothing to care,
have nothing to play,
have nothing to dare.
nothing,
tidak ada,
terebut semua.
*gua sangat berharap bisa menulis jauh lebih banyak dari ini, bahkan sekarang bernafas dengan hati saja sudah menekan kerja neuron bicara, hingga tak terucap apapun dari kata.
cebi-16april2009-bandung
tak tersisa sisa sisa air mata,
kering,
tertangis sudah,
dan hatipun sudah pecah,
memenggal semangat jiwa,
merunduk tangis,
berdarah.
cebi-12april2009-bandung
[man]
aku terlahir bisu,
aku akan dengar semua perkataanmu,
dari keluh kesah hingga berubah amarah,
dan merespon dengan gerak tubuhku.
[woman]
hei bisu,
apa pamrihmu untuk kaudengar resahku?
apapun itu, terberkatilah dirimu.
aku mulai saja,
dulu ada seorang ksatria,
ia berikan padaku indahnya lembayung senja,
dan memujaku layaknya purnama.
tapi ternyata ia hanyalah ilusi,
katanya aku harus bangun dari mimpi,
dan ia pergi,
katanya aku lebih baik sendiri.
air mata sudah habis, kawan,
sudah hilang arah berjalan.
kamu sudah tahu kisahku,
lantau kamu mau apa?
[man]
andai bisa berkata,
pinjaman lidah cukup merubah segala,
dan matirasa sanggup dibuatnya.
andai bisa berkata,
sedih macam kelabu tiada guna,
dan dua sisi muka tak mungkin terlihat bersama.
ini bisu,
tak jauh dari biru,
minim teman, kemarau cermin pemukau.
aku telahir bisu,
sayangnya hanya satu sisi mukaku.
[woman]
tak masalah,
asal tak berubah.
tak mengapa bisu,
asal tak menipu.
bantu saja,
berikan setitik cahaya sebelum tertelan malam,
dan terlanjur tenggelam.
[man]
kini langit dirundung hujan,
tak kuasa badan berikan bulan,
mungkin bisa jika hanya pinjamkan lentera.
kamu,
masalah apa ksatria membangunkanmu?
dan meninggal biru?
kamu,
mari bermain bunga,
supaya ikhlas terlupa.
[woman]
tak mengerti,
katanya berburu lebih mengisi,
sudah tak perlu hadir seorang putri,
katanya cuma menambah beban hati.
bermain lentera saja,
tak mengapa,
paling tidak sepi terlupa,
dan tak tertipu rupa purnama.
bisu pun tak mengapa,
asal tak banyak bicara,
lalu janji terlupa.
kamu yang bisu,
mengapa tibatiba menghampiri?
[man]
bingung,
tak temu teman beradu canda,
dan keram mulai mengawan mendekat.
kuceritakan kisah musim empat,
dahulu,
semi datang membuka putih,
dan menghangat bumi dengan spora ceria,
surya menyinar keras membunuh cerita,
menyamar benang merah nafsu-cinta-dan fana,
hingga gugur menyapa,
dan dingin ikut berduka.
tak ada hak hentikan surga,
tak cukup kehendah putarkan neraka,
siklus musim terbuka,
dan biar tawa menutup semua.
begajulan with rey, makasi ya rey :D
cebi-8april2009-bandung
*pesanan teman-yang-tidak-boleh-disebut-namanya
dan sekarang,
bunga kemarin menghilang,
tikai cinta terlupa,
dan siklus teks tertunda.
seakan merana,
jutaan alibi semata,
dan menyesal apa yang dirasa,
dan sebenarnya.
anak kemarin sore,
kisah manis pagi hari,
kecap segar kunyahan pertama,
tetes embun sementara.
dan sekarang,
bosan energi terbuang,
hanya terunduk dan bergumam,
argh.
cebi-6april2009-bandung
mungkin ini tujuanku,
tinggal tunggu,
dan waktu menguak lapis ragu.
sayang tak tahu.
cebi-31maret2009-bandung
*pesanan ozu
iya aku kuat,
tak perduli sekarang tiada,
tak perduli luka menganga,
tak perduli iris hati jiwa.
iya aku kuat,
dengan teman kuterpapah,
dengan kawan kutergerak,
dengan sahabat kumelepas.
kini,
aku kuat,
tertutup kecewa dengan tawa,
dan rana dilema enigma.
selamat tidur,
dan bara yang terabu,
dan nyala yang mengabu,
dan kerja yang kini tiada.
maaf,
tapi kini sudah kulupa.
[slamat tidur - sheila on 7]
waktunya,
padamkan bara.
waktunya,
pejamkan mata,
dan tiada lagi berkata.
selamat tidur.
move on zu~
cebi-25maret2009-bandung
kini lelah bertahan,
dibelakang luka dalam,
tanpa makanan,
dan sedikit minuman.
dan putaran kepala,
dan pening yang menyangga,
dan panggilan kelaparan,
namun tak bisa berbuat apa.
kini lelah bertahan,
mungkin sampai waktuku,
doakan saja supaya selamat.
cebi-radang-23maret2009-bandung
tebal,
dan sekarang bergambar.
kikisan kertas terpaku grafit,
rentetan karet penghapus,
dan serbuknya.
kini tergambar,
muka tertudung disana,
tebal.
rundung rumah gejala,
dan kemenakan semenja.
cebi-21maret2009-bandung
diri berdiri,
menyangga diri sendiri,
termulaiku dari awal,
diri.
berdiri diri,
mengangkat sebaya,
bersama menapak asa,
berdiri.
sendiri berdiri,
membuka pintu bicara,
dan rana terpana,
sendiri.
menuju peraduan,
mengetes keberuntungan,
dengan kata kunci berani.
cebi-klikkanan-12maret2009-bandung
teks,
tertuju.
dan gelombang,
menanda ada.
ini gusar,
sebut saja gulana.
enigma mata,
bermain kiciran rana.
meyakin rencana,
dan sesedikit berkata.
bicara tantangan malam,
dan memusingkan.
cebi-9maret2009-bandung
"mungkin,
kalo aja puisi itu ada aturannya,
gua gabakal pernah mau nulis puisi.
mungkin,
kalo aja puisi itu ada batesannya,
gua gabakal pernah mau nulis puisi.
mungkin,
kalo aja setiap tulisan rangkaian kata pendek gua disebut puisi,
gua gabakal pernah mau nulis puisi.
mungkin,
kalo aja ada penilaian dalam puisi,
gua gabakal pernah mau nulis puisi.
mungkin,
kalo aja kita harus suka puisi buat nulis puisi,
gua gabakal pernah mau nulis puisi.
mungkin,
kalo tiaptiap puisi harus indah,
gua gabakal pernah mau nulis puisi.
mungkin,
kalo semua kata cuma punya satu arti,
gua gabakal pernah mau nulis puisi.
mungkin,
kalo aja di dunia cuma ada satu bahasa,
gua gabakal pernah mau nulis puisi.
dan mungkin,
kalo aja semua orang bisa jujur dalam perkataannya,
gua gak perlu lagi nulis yang namanya puisi."
"yang ini puisi,
yang ini mungkin puisi,
yang ini bukan puisi,
at least ini tulisan gua,
gak harus kok ada yang suka."
ditulis saat gua sangat bingung dimana sebut-saja penulispenulis puisi indonesia bilang dalam review sebuah buku: "ini adalah buku wajib buat mereka yang menulis puisi". dan gua cuma bilang: ah menn....
cebi-2maret2009-bandung
awal bulan,
besok bercerita,
berbunyi hati,
bercurah.
awal bulan,
menyala lampu,
menguning,
bercerah,
awal,
akhir baru,
dan berawal,
menuju baru.
berputar,
menguning memudar,
maju mundur,
dan stagnan.
cebi-1maret2009-bandung
pulau matahari,
laut emas,
pemegang kekuasaan.
bukan objek,
hanya kisaran maya,
numerial semata.
disini lebih,
tersentuh,
suatu apa.
cebi-27februari2009-bandung
aku dirundung hujan,
mati dikala malam.
tahu alasan tak beringinan?
hal kecil,
hanya mereduksi orang terluka,
lagi.
ingat kesalahan terakhir?
hal kecil,
hanya menusuk hati,
hingga mati.
cebi-25februari2009-bandung
terima kasih untuk waktu kosong, mood baik, dan pesan singkatnya. :D
|satu|pengguna nota|
[perekam imaji]
tolong,
bawakan lentera,
tengah duduk hitam disini,
beserta dingin asapnya.
tolong,
selimuti selimut pelangi berwarna,
sepi warna entitas partisinya,
cukup tumpahkan dan rasakan.
[pengguna nota]
dimanakah engkau berpijak,
aku buta dalam kelam.
aku tak miliki yg kau pinta,
lenteraku basah oleh embun kecewa,
selimutku berbahan koran hari kemarin.
tapi biarkan aku yg tak berpunya ini,
menemanimu dalam gelap.
[perekam imaji]
ini bukan gelap,
ini hitam,
dingin mencekam.
didalam terdengar teriakan,
didalam bayang putih terbang,
didalam kelam.
cukup putih,
lentera merah,
dan pelangi indah yang butuh didalam.
[pengguna nota]
pejamkan matamu,
hitam dan gelap pekat,
namun disana kau bisa mencipta.
tak perlu lentera,
hanya khayal akan imaji,
kau bisa memiliki semua,
bahkan kekasih dari rembulan.
coba kau pejamkan mata.
[perekam imaji]
sayang disini aku bukan obyek utama,
walau mata terpejam cahaya masih ada,
bila saja sedikit lebih mengenalku,
aku mati jika hilang temanku,
bukan sampai waktuku.
ini bicara mata,
wanita gembira berselendang merah muda.
|dua|prajurit ketiga|
[perekam imaji]
tolong,
bawakan lentera,
tengah duduk hitam disini,
beserta dingin asapnya.
tolong,
selimuti selimut pelangi berwarna,
sepi warna entitas partisinya,
cukup tumpahkan dan rasakan.
[prajurit ketiga]
maaf,
saat sapa mu memanggil,
senja yg kau nanti,
telah terlelap di tengah,
padang bulan gelap,
semoga kau menemukannya,
sebelum aku.
[perekam imaji]
aku belum temukan,
senja pelangi selimut malam,
hingga angin utara menyapa,
bertanya kabar berwarna apa.
aku belum temukan,
senja pelangi selimut malam,
perubah dingin,
pemecah sepi.
[prajurit ketiga]
dengar lihat dan rasakan,
bisa jadi ada tandatanda terlewat selagi berlalu,
hey, kau tahu,
pelangi tak kan menunggumu,
senja tak kan mencarimu,
tapi yang jelas,
malam pasti akan datang,
tenang saja, kawan.
[perekam imaji]
pagi berganti,
terang gelap menemani,
terlihat bunga mekar,
terlihat pucuk hijau,
terlihat tetes embun,
namun 24-7 sepi masih terasa,
hampa.
ketika malam datang,
hujan berlalu lalang,
tudung itu masih bersama,
hingga pukul dua.
|tiga|pujangga awan|
[pujangga awan]
pagi aku mengumpatkan hujatan pada malam,
mengapa mimpiku menjadi remedi dua berulang?
orang yang sama muncul menyita bantalbantal bunga tidurku,
menyibak kegalauanku dengan tanya,
mengerang pribadinya yang berenigma.
[perekam imaji]
lantas siapa?
lantas gulana terasa?
jika pagi menjelang,
jika malam menuju petang,
jika kini cahya mendatang,
lelap terasa lantang,
namun mengapa terkelam?
tolong carikan temaram malam,
sungguh hitam dan beku disini.
[pujangga awan]
siapa aku juga entah.
enigma bermain dengan logika,
bergundah gulana,
malam memang memikat,
apakah jua purnama menyembunyikan kelam dengan sinarnya?
[perekam imaji]
kenalkan bulan,
sepanjang hidupnya dua,
hitam dan terang.
kamu sudah kenalkan dirimu lalu,
bantu aku.
tolong,
bawakan lentera,
tengah duduk hitam disini,
beserta dingin asapnya.
tolong,
selimuti selimut pelangi berwarna,
sepi warna entitas partisinya,
cukup tumpahkan dan rasakan.
[pujangga awan]
yang ku tahu,
ku hanya pembuat luka,
namun kukan bantu apa yang kubisa.
kau tahu,
bulan dapat menampakkan merah pada romannya.
selimuti jiwamu yg telah lumpuh lelah dan kalah.
[perekam imaji]
mungkin aku payah,
hilang asa menuju menyerah,
namun sehat,
tanpa luka tanpa goresan,
tanpa tanpa derita kelalaian,
berlaku nama,
hina,
dan terhina.
[pujangga awan]
kau tak payah,
hanya lelah,
mungkin,
maaf,
jiwakulah yang lumpuh lelah dan kalah,
tak kunjung sampaikah lara mencapai tugasnya?
[perekam imaji]
aku kebal lara,
silet tajam sempat menaruh luka,
jauh kejam,
keras dalam merah,
kini merah berubah biru,
damai,
sepi,
haru.
[pujangga awan]
biru sebiru enigma yang gantungkan tanya,
cuacaku kelu,
hujan kembali mengetuk jendela,
menghadirkan keresahan pada dada,
tak kunjung damai,
yang sepi,
sedih dan letih.
[perekam imaji]
indah warnawarni,
merekah bergaris abadi,
namun lepas,
pelangi.
enigma,
sudah terlupa kapan ada,
merekuh lelah,
mengganti kicau dan asa.
semalam,
aku dipanggil bintang,
padanya kudibisikkan cerita,
menyesal katanya dia memilihku.
[pujangga awan]
ada satu fakta baru,
bendabenda lelangit semua munafik,
lihat langit bersih telanjang,
tak hadir awan namun sesaat gemuruh badai datang,
pun pelangi awan hujan,
bintang purnama angin surya,
semua sembunyikan kelam dalam cuaca yang senja.
[perekam imaji]
bicara cuaca,
bulan tidak memihak semalam suntuk,
mentari tak menari awal petang,
bahkan angin selatan tidak bertiup memasuk jiwa,
lupa mungkin mereka denganku.
|empat|koki rana|
[perekam imaji]
tolong,
bawakan lentera,
tengah duduk hitam disini,
beserta dingin asapnya.
tolong,
selimuti selimut pelangi berwarna,
sepi warna entitas partisinya,
cukup tumpahkan dan rasakan.
[koki rana]
surya,ku tengah mencari kuningmu,
lingkaran hangat diatas raga,
silau pun tak apa.
mainkan harpa berbulir air,
biru itu tempatku,
biru itu asaku.
[koki rana]
maaf,lentera tak sanggup kugapai,
adakah lilin dapat menggantikanny?
merah biru itu kuning,
tak apakah?
kainku tak cukup lebar,
selimutku tak cukup besar,
adakah aku sanggup meredam pijarmu?
dan nyala warna dr tiap garismu?
sulam benang bening hujan,
kuanyam,perlukah?
[perekam imaji]
hujan pendar pelangi,
biskuit buat lingkarnya.
terimakasih,
sinar telah terpantul bahagia,
namun sendiri masih terasa.
aku sama dengan egoisku,
aku sama egoisku,
aku egoisku,
aku egoku,
aku ego,
aku,
aku!
[koki rana]
pengelana cahaya hanya mampu bertanya,
kenapa,apa,dan ada apa?
haruskah ku sibak tirai awan,
hingga kau lihat,
ini kawan?
atau perlu kubawa serta kencana bintang agar terasa?
dan aku sama denganmu,
egomu 1 egoku 2
tepamu 1 tepaku 2
dan jika kmu memiliki 1000 hal yg membuatmu sendiri,
kubuat 1001 lg menemani.
[koki rana]
dan ketika timbangn bintang bergerak
haruskah dewi yang menimba airnya?
dan srikandi menunggu curahan airnya?
124816
dengan itu sang pengelana mengmblikan cahaya agar mengenal cahaya
[perekam imaji]
aku penanya,
dengan garis seru tegak.
tanpa srikandi,
tanpa air mengalir,
aku tak sendiri,
dengan bungkus sama dan isi berbeda,
dengan bungkus coklat bertulis retak.
[koki rana]
guratku kasar,
guratku tajam,
keras,
namun tintanya apalah arti,
tanpa warna tanpa asa,
hanya sapuan bening menyibak papyr,
bukan kosong bukan tak ada,
hanya garis,tanpa warna,
siapa yg melihat,
siapa yg terusik,
warna airpun tak punya.
[perekam imaji]
kembali dengan lampu terang warna,
barusan terlukis senyuman macan kancil rusa,
dengan sempit jendela,
dan teriakan bersama.
titik dan garis,
monokrom,
air itu milikku!
|lima|pelukis cahaya|
[perekam imaji]
tolong,
bawakan lentera,
tengah duduk hitam disini,
beserta dingin asapnya.
tolong,
selimuti selimut pelangi berwarna,
sepi warna entitas partisinya,
cukup tumpahkan dan rasakan.
[pelukis cahaya]
selama ini,
aku kira kamu baik2 saja,
aku kira lenteramu tengah menyala benderang,
aku kira sedang membuncah warna-warna pelangimu,
mengapa kau meminta tolong?
siapa aku,
apa dayaku?
lenteraku redup,
pelangiku pudar.
[perekam imaji]
ini luaran,
memakan beban kepulan teman,
terjepit,
sempit,
teriakpun terdengar menjerit.
cuma minta cari saja,
cari,
biar aman.
tidak ada paku,
garis batas,
dan titik hilang.
[pelukis cahaya]
definisikan lenteramu,
terangkan tentang warna pelangi itu,
aku belum sepenuhnya mengerti,
nanti kubantu carikan.
[perekam imaji]
baik,
penerang jiwa.
daripada tertinggal mati,
tanpa guna,
terhina.
pernah lihat pelangi kelabu?
[pelukis cahaya]
pelangi kelabu?
terlalu suram analogimu,
pelangi tidak pernah kelabu,
hanya belum mau menampakkan diri,
hujan di hatimu,
di hati siapa pun mungkin belum berakhir,
pelangi nanti datang.
bangun!
lihat! dunia ini berwarna,
libatkan dirimu di dalamnya.
dunia ini warna-warni,
pernah lihat warna angin?
[perekam imaji]
kaget,
lihat satu dunia,
terlalu besar,
ruang tak batas.
kaget,
lihat angin keras,
terlalu kuat,
energi tak batas.
kaget,
lihat hujan deras,
terlalu banyak,
menutup tetes haru mata.
kamu siapa?
tak pernah cerita,
seperti anak kemarin sore saja.
[pelukis cahaya]
aku ini pemimpi,
tidurku nyata,
bangunku adalah mimpiku.
aku pengkhayal,
melukis dengan warna angin,
merasakan damai dalam badai,
bercerita dalam imajinasi.
aku pemimpi,
yang kadang lupakan derasnya hujan,
yang kadang tak acuhkan kerasnya angin,
yang suka mencari aman.
itulah aku, pemimpi. lantas kamu siapa?
[perekam imaji]
kenalkan,
aku pedih,
merubah segala menjadi sepi,
bahkan diriku.
rangkaian kata adalah kamuflase,
mimikri nyata muka,
fatamorgana luka,
afokus raga.
[pelukis cahaya]
hei kamu, pedih!
masih samar dirimu di mata pemimpi,
terlalu tebal awan kamuflasemu,
fata morgananya lebih hidup daripada yang nyata.
apa yang bisa kuperbuat?
coba kaubermimpi sepertiku,
mungkin pedih akan jauh2 darimu,
lakukan, kecuali kamu tidak perlu.
[perekam imaji]
teman temaram malam,
kelam,
masih terakhir dipersimpangan,
bayang redup lentera lama.
mungkin dia baru,
dan belum panas,
bahkan belum ada nyala,
masih berbahan pedang cahaya.
tunggu saja kelanjutannya,
aku juga mengerti apa hampa.
|enam|penentu arah|
[perekam imaji]
tolong,
bawakan lentera,
tengah duduk hitam disini,
beserta dingin asapnya.
tolong,
selimuti selimut pelangi berwarna,
sepi warna entitas partisinya,
cukup tumpahkan dan rasakan.
[penentu arah]
hai kamu yang di sana sendiri,
kemari,
ikuti tarikan selendang sang penari,
kan ia bawa kau dengan kereta kencananya,
meminjam langit ketujuh sampai semua kau lupa.
kini cerita padaku,
langit ini tak akan runtuh asal kau tahu
gundah itu kau bagi saja,
kemilau pelangi kan kupinjamkan padamu kalau aku bisa.
[perekam imaji]
jangan dipinjamkan,
itu sudah dipunya temanmu.
kini sudah tiada teman,
hanya itu dan yang itu,
bosan.
kalau saja bisa pinjam,
akan kurebut paksa bila aturan tak ada,
sayang tak rela yang ada,
selendangnya pun sudah lupa.
[penentu arah]
bukan lentera,
tapi kuberikan sepantik api menyala,
hanya redup cahayanya,
tapi mungkin bisa buat hadirmu terasa
lupakan saja selimut pelangi,
disini warna warni kita ciptakan sendiri.
duduk saja disini bersamaku,
bagi saja gulanamu,
dan akan kubagi sekotak rahasia.
hitungan harganya mungkin tak seberapa,
tapi bagiku itu harta paling berharga,
semoga saja bagimu bisa mengobati luka.
akankah darimu keluar sebuah cerita?
[perekam imaji]
tenang,
belum cukup kuat kaki menopang,
belum cukup sembuh gores terakhir,
belum cukup cair lidah terkaku,
mungkin hanya masalah waktu.
aku mau kotaknya,
sudah cukup asa ditahan ada,
perlu berlutut memintanya?
atau perlu kata kuncinya?
tadi,
ceria mendatangi,
etikat baik,
entah darimana.
[penentu arah]
buat apa bertekuk lutut meminta,
tak perlu aku dirayu dengan kata-kata
aku ini bukan putri negeri seberang,
sekotak rahasia tak akan buat harga diriku melayang.
kini kutanya lagi,
apa kabar dengan ceriamu tadi?
semoga saja ia bantu memecah sunyi,
apakah tadi ia beri kau selimut pelangi?
dan aku masih disini,
menunggu kisah,
setidaknya hingga engkau tegak berdiri dan berwarna lagi
setelahnya kau campakkan aku pun tak mengapa
bawa saja kotak rahasianya,
anggap saja suvenir sederhana dari surga
[perekam imaji]
belum,
masih terlalu baik.
sama seperti dulu,
saat purnama bersamaku,
hanya sehari,
lalu sebulan sekali,
lalu berkesimpulan terlalu banyak dia berpaling kelam.
simpan,
mungkin masih ada yang bisa,
mungkin.
cebi|rey|nobi|hani|ahu|nadia|rahma-18~21februari2009-bandung
sangat sangat terimakasih teman. semoga berkesan.
ahu-pengguna nota, nobi-prajurit ketiga, hani-pujangga awan, rahma-koki rana, nadia-pelukis cahaya, rey-penentu arah, cebi-perekam imaji
seribu lilin seribu doa,
dukamu duka kami semua,
dan lantunan itu teriring bersama perih menyala,
dengan nyala titik bulat purnama,
melingkar di pusat gema,
bersama.
kini,
satu pejuang berkurang,
cahyanya diredup sementara,
hanya bersisa sinarnya.
kawan,
jika masih terdengar disana,
kami putra putri seperjuanganmu menangis disini,
mengirim doa berlumur suci,
mungkin ini memang lajur terbaikmu,
hanya ketenangan yang diharap,
hingga sisi terbaik untukmu.
delapan belas malam,
kami berwarna lembaga bersimpuh satu,
tanpa pikir ego,
tanpa kecupan arogan,
satu.
kau tahu berat pergimu,
kami tertinggal,
orangtua terharap,
menangis.
jika disempatkan bibir bicara,
barang satu dua detik saja,
mungkin akan keluar serumu,
hingga batas waktumu,
sering terkata,
ini bukan akhir,
tapi awal.
seribu lilin seribu doa,
dukamu duka kami semua.
cebi-19februari2009-bandung
for notes from shawq.
notes to notes,
nota ke nota,
note to note,
not ke not,
tone to tone,
nada ke nada,
pernah rasa resah?
kini ia tiada,
nada.
cebi-18februari2009-bandung
kehilangan,
merah yang dulu kekuning,
biru yang dulu menghijau,
serta kelabu yang mengelam.
kini semua cerah,
atau gelap.
dan bila,
pandangan dipalingkan,
hanya ratap tajam yang terlintas mengimaji muka.
dan bila,
merah dicoba dahulu kala,
tetap hilang yang terasa.
cebi-16februari2009-bandung
tak usah difikirkan,
cukup tinggalkan,
dan anggaplah semua berjalan lancar,
bahagialah.
nantinya kau tak tahu bagaimana yang disini,
itupun jika saja masih peduli.
cebi-15februari2009-bandung
gantung merah,
dan tawa riang,
merepih lantunan kawat keunguan.
dan keratan tudungan.
nanti malam,
putaran lanpu sorot berwarna,
mengiringi dentuman suara,
dan gantung merah masih teringat terpana.
melemaskan jari,
mengangkat jepretan film tipis,
dan penenang jiwa,
tanpa teman.
cebi-13februari2008-bandung
lantunan lagu,
mengapa tak seperti dahulu,
kicaunya menyenangkan,
nadanya menyejukkan,
membawa senyuman.
lantunan lagu,
kini hanya perih,
mengiris,
dengan tahu kenyataan yang ada,
dan kamu (atau aku) adalah yang tak terpunya.
ketika diberi kesempatan kedua,
mungkin hanya bisa bicara,
lantas bisa apa?
cebi-11februari2009-bandung
hapus terhapus percik semangat barusan,
hapus terhapus kibasan bendera hitam,
hapus terhapus bulatan putih bertuliskan lambang.
kini,
semua api terpadam,
semua bara termakan,
semua air terserap.
tersisa kain luntur,
yang membekas teriakan semangat,
kesal benci resah,
dan kikisan belikat belakang.
kini,
terputar klise film disana,
terbuka rana cahaya,
terkritis karya ternama.
kini,
semua bahagia,
kami salahsatu bagian didalamnya.
cebi-kruba-8februari2009-bandung
termalam,
mendengar kicauan pendengar,
dan tertunduk menunggu petir menyambar.
termalam,
dengan lima kurawa,
dan segenap semangat membara,
tanpa menyisa apapa.
termalam,
dengan kembali melihat senyumnya,
dan terpisah begitu saja,
tanpa unduhan tegur sapa,
dan semoga esok hariku ada.
termalam,
dengar kicauan pendengar,
dan itu menyisa.
cebi-6februari2008-bandung
berharap,
dan terus berharap,
tanpa tahu harapan apa yang diharap,
dan tanpa tahu apa yang diharap juga berharap,
dan tetap berusaha walau harapan tak berharap.
lantas,
apa yang bisa dilakukan selain berharap sekarang?
pilihan gerakan juga sudah tercoba semua,
cabangan jalurpun sudah terjamah jalannya,
berharap,
dengan cemas,
dan kulit hari yang terkelupas.
cebi-2februari2009-bandung
[satu]
pukul dua,
hingga petang,
temaram.
[dua]
dan yang dulu menyala,
dan yang dulu tertawa,
dan yang dulu gembira,
kini temaram,
biru,
memecah rindu,
menggalau kalbu,
meracuh syahdu,
merobek jalinan pilu.
[tiga]
lantunan keping perak,
temani malam,
dan terulang hingga hati temaram.
kamu,
mengapa hingga begitu?
[empat]
retak,
hingga hilang separuh jiwa,
tak fikir hidup,
hanya hampa.
dan kamu,
masih terfikir olehmu,
apa yang tersisa?
pernah kau baca jariku?
pernah kau rasa layarku?
penyambung hidupku,
tinta ketikanku,
sesalanku,
ini aku.
dan cahya temarampun sudah tak bisa terekam.
cebi-28januari2009-bandung
pagi,
kurawa bersemi,
dan tetesan bulat gutasi,
hingga melangkah menuju semi.
siang,
si putih menuju benderang,
memakan silau cahya penyejuk terang,
dan kuduga ketukan dinding lama terulang.
hingga sore,
ungu yang terlupa,
oranye yang hilang,
hitam yang datang,
bitu yang tertutup asap jiwa.
sore yang terlupa,
akan senyum lebar itu masih terpampang disana?
tanpa alasan lain tanpa karetnya?
cebi-28januari2009-bandung
turun bersama buih sedih,
meramu harap untuk sesuatu baik,
dan terisak.
dan degup dada mulai menggetar tiap detiknya,
dikata lemah,
lebih tepatnya tanpa daya,
toh saya siapa.
cebi-26januari2009-bandung
duduk kakiku menyimpuh lelahku,
menunggu,
dan setelah putaran menit berlalu aku mulai sadar,
aku menunggu.
tersandar diri dengan lemasku,
menunggu,
dan setelah putaran jam berlalu aku mulai sadar,
aku menunggu,
terusap dada bersama sisa semangat hidupku,
menunggu,
dan setelah putaran hari berlalu aku mulai sadar,
aku menunggu,
terkoyak hati dengan sendiriku,
menunggu,
dan setelah putaran ini berlalu aku mulai sadar,
aku menunggu,
menunggu datangnya 'sesuatu',
yang dengan ikhlasnya membunuh sendiriku,
dan turut melukis indah hari,
bersama.
cebi-24januari2009-bandung
pulang,
menanda badai timur akan datang,
dan angin utara terus berderu kencang,
melawan mata,
angin.
sebelum pulang,
membawa kicauan ditengah rerumputan malam,
dan sekantong decak segar pemercik semangat merah,
berbalik arah,
angin.
kini serakan kembali pulang,
bersama jeruji tajam pengoyak asa,
membunuh imaji massa,
hingga membalikkan suasana,
dan merogoh kata,
angin.
cebi-24januari2009-bandung
cerita kotak 16 halaman,
terdapat puluhan potongan dimuka,
dan sebagian kata bijak tertulis disana.
awal biru terkata sudah,
dan hijau menyusul,
terkata merah menutup dibelakang.
sempat senyum tatkala penyajian dipuji,
sempat tertawa tatkala malu kucing mengangkat,
sempat tertunduk tatkala hina terlontar.
kini, tinggal huruf yang dinanti,
tak ada guna gusar menyapa,
tinggal tunggu tanggal mainnya.
cebi-21januari2009-bandung
*untuk firman
sedari,
awal sedihmu memupuk sepi,
mengharap senyum itu kembali,
dan pening kepala awal kembali bersemi.
sedari,
putus itu mengarti sendiri,
dan ucapan keluar berbalik terlontar,
dengan jarak 20 meter dibelakang mesin mandiri itu.
sedari,
awal disadari,
tinggal dongakkan kepala,
dan melihat sekitar,
pasang umpan,
siapkan tongkat,
dan beberapa kail baru,
masih banyak ikan di lautan,
keep smiling pren.
cebi-15januari2009-bandung
kamu,
yang berlagak pintar didepanku,
makan egomu,
jamahi munafikanmu,
kunyah sombongmu,
lihat nanti di cermin pantulan wajahmu.
jika sempat kau mendengar layar sinema,
disana akan berkata,
yang tersenyum terakhir adalah pemenangnya.
cebi-12januari2009-bandung
tak siang kusalahkan,
bukan lokasi kuperhitungkan,
mungkin takdir mungkin apa,
seorang benar sudah terlupa.
kini,
tak ada guna jika rindu dirasa,
pandang tuju muka saja sudah tak ada,
dan kuat kini melemah,
hanya lantunan terputar ulang.
[james blunt-you're beautiful]
you're beautiful,
it's true.
and I don't know what to do.
but it's time to face the true,
i will never be with you.
cebi-2januari2009-bandung
pintaan teman
jika nafas itu berdesah,
lelah melukis bayangan awam,
dan aku menangis kini,
usah kau tangisi.
dan kepergian,
memang jawaban,
dan aku hanya bisa,
dan-kau-juga-tahu-apa.
cebi-1januari2009-bandung
baru tahun,
malam hadir tanpa bintang,
membuka peluang pengisi bintang,
dan sekian bidadari penghias langit siang,
tinggal perbaiki diri untuk bersaing mengisi tempatnya.
baru tahun,
setelah semalam rupiah terbakar,
dan mencipta percik cahaya penulis langit,
dan mencoba membentuk ceria.
baru tahun,
dan tahun lalu telah terlewat dengan kekurangajaran tindakan,
menembus pelangi,
hingga menyisakan rana,
remah pengganggu mengotor suasana.
baru tahun,
bilakah masih ada masa siklus kini,
hingga sampai aku di sepuluh,
aku mohonkan bantu perbaiki diri.
baru tahun,
tolong carikan mimpiku,
aku hilang bunga tidurku,
dan setengah hatiku.
cebi-1januari2009-bandung
terimakasih untuk semua untuk waktunya. dan pulsa untuk pesan singkatnya.
[satu]
[perekam imaji]
kenalkan,
namaku sepi,
aku penyerubuk amarah menunggu pagi,
hingga tetes air mata tertumpah.
boleh ceria menemaniku?
[penentu arah]
apa yang kau cari dari sebuah ceria?
seringkali hanya ada deraian tawa hampa,
atau sekedar topeng pujaan para pujangga,
hanya wujud lain dari kata purapura.
apa yang kau harapkan dari sebuah ceria?
bahkan segaris senyum saja perlu ada imbalannya,
mengapa aku yang kau pilih jadi teman bicara?
bahkan menghapus airmatamu saja aku tak bisa.
[perekam imaji]
ceria penggambar senyum di ratap semua,
bahkan ia tak meminta balas untuknya.
kamu,
sudah lupa senyum dibalik tudung itu,
yang terlihat hanya tuntutan akademik semata,
dan perkataan anti,
tapatnya setelah itu,
waktu itu.
[penentu arah]
gambar senyum seperti apa?
palet warnaku sudah tiada,
rasanya realita telah menggerusnya,
jadi katakan padaku,
memang aku bisa apa?
bukan waktu yang membuat aku lupa,
tapi hanya senyum itu memang tek pernah ada,
bukannya semua yang ada di atas bumi ini memang pura pura?
[perekam imaji]
maafku berputar didalamnya,
agar purapura hilang berkumpul dimuka.
kamu bisa lupa akannnya sementara,
lalu nikmati merah hijau birunya,
seorang berkata kau bisa cipta segala dari ketiganya,
mungkin ada tawa diantara padunya.
seburuk itukah sepi dimatamu?
siapa kau?
mengaku padaku.
[penentu arah]
akulah rembulan malam tertutup gerhana,
indah yang terpudar tanpa daya bercahaya dari belas kasihan mentari,
hanyut tertutup awan kelabu.
inginnya aku bercahaya,
sinari senyap peradaban, menuai puja,
tapi tanpa mentari aku bisa apa?
telah lama tak kupantulkan cahayanya.
[perekam imaji]
berdayung balada bulan gerhanamu,
sejak pertama,
kau nampak bercahaya,
sinari kaus merah menuju targetnya.
kata hina,
laku kasar,
lirik tajam,
lipatan kertas warna,
toh aku masih bahagia.
kenapa selalu kau anggap kelabu?
itu duniamu masih menunggu,
sapa sejenak lalu nikmati.
[dua]
[perekam imaji]
kenalkan,
namaku sepi,
aku penyerubuk amarah menunggu pagi,
hingga tetes air mata tertumpah.
boleh ceria menemaniku?
[prajurit ketiga]
aku kira ceria dijemput temannya berkendara sore menuju pelangi,
dia bilang akan kembali malam nanti,
terserah kau,
mau menunggu atau tidak.
[perekam imaji]
kupikir ia bersamamu tadi,
bermain balon besar berwarna kelabu,
serta pelangi itu,
aku tak lihat ia mewarnai apapun sesore hangat itu.
[prajurit ketiga]
bahkan,
sudah sebulan ini aku tak bertemu ceria,
aku rindu padanya,
apa gerangan kau mencarinya?
hujan sore tadi tak menyisakan bekas,
bahkan hingga malam pelangi masih berteman dingin.
[perekam imaji]
mungkin sama,
hanya sesekali menyapa,
saat cengkrama temen sebaya,
hingga saat itu terjadi,
entah mengapa ia menjauh.
bisa tolong carikan untukku?
serenada ungu pencetus biruku?
[prajurit ketiga]
entah harus berkata apa,
bagikupun sulit,
bahkan ceriakupun masih saja,
tak bisa menggantikan yang sudah usang itu.
lucu ya,
kita seakan memandang langit yang sama.
[perekam imaji]
seorang berkata langit itu tujuh dalamnya,
menurutku satu pandangan telah menembus ketujuhnya,
walau tak sanggup berwacana.
[prajurit ketiga]
bicara tentang langit,
kita harus tengadah,
mengapa tak tinggal di tanah saja?
tanah yang lembab ini,
dan bau rumput basah.
[tiga]
[perekam imaji]
kenalkan,
namaku sepi,
aku penyerubuk amarah menunggu pagi,
hingga tetes air mata tertumpah.
boleh ceria menemaniku?
[pujangga awan]
siapakah yang dimaksud ceria olehmu?
jika itu aku,
kau salah sambung.
kalau begitu,
kenalkan,
aku adalah melankolia malam,
lara adalah nama tengahku,
tidak seperti yang lain,
tuhan memberitahukan aku sebuah rahasia kecil,
sebuah takdir.
akan kuberitahu,
aku telah ditakdirkan untuk tidak bahagia,
dan aku harus menjalaninya.
[perekam imaji]
kalau ceria tak ada-dan kau adalah siapa-lantas dimana aku dapat dia?
penggembira hanya sementara,
lantas dibayar dan enyah tak mengapa,
aku tak mau penggembira,
aku butuh ceria,
penggambar lengkung bahagia pada sumber suara,
paling tidak untuk kita berdua.
[pujangga awan]
ceria yang kau maksud tak lagi hadir disini,
ia sudah koma dan telah kutelan bulatbulat kedasar jiwaku,
aku adalah melankolia malam yang menyesatkan,
kau akan menemukannya dalam angan.
[perekam imaji]
sudah tak ada?
kupikir masih kau simpan sejak terakhir kali aku menitipkannya,
kupikir malam ini istimewa untuk semua,
ternyata tak semua merasakannya.
[pujangga awan]
ia telah gusar dan dirundung duka,
aku tak tega maka aku memakannya supaya ia tak legi menderita,
berpeluh tangis rana.
cebi/rey/nobi/shawq-thanks to all-serpong/bandung/pamulang-25desember2008-post:28desember2008
kau merah hijau biru,
melambang sifat mengulas syariat,
hingga cerita terciprat keluar.
kau merah hijau biru,
hanya pintaku akan izinmu untuk citraan pribadiku,
lukis manis penggugah selera.
ditunggu dengan imaji indahnya,
semoga.
cebi-23desember2008-bandung
tangan dingin,
beku tak bergerak demi sayap pengetiknya,
dan pemegang citranya.
aku kaget,
bukan mengapa.
cebi-23desember2008-bandung
rindu,
kangen bertemu.
mengaduh peluh rindu,
kau yang selalu bilang selalu bilang,
tak ada nyata.
cebi-19desember2009-bandung
bermain main di dalam sini,
penghuni pagi.
hampir hampa tuntutan istirahat malam,
hampir hampa seluruh elektronik siang,
hampir hampa candaan tawa riang,
dan motor yang terkambing hitam.
kamu bermain main di dalam sini,
penghuni pagi.
itu maumu,
dan (mungkin) salahku.
cebi-15desember2008-bandung
bunda,
selamat ulang tahun,
terimakasih sop buntut gorengnya,
dan kecupan sayangnya.
akbar sayang bunda.
cebi-13desember2008-bandung-buat mom yang kemaren ulangtaun :D
biar mengapa,
jika energi dihitung pangkat cahaya,
peduli juga tak ada,
mungkin cuma tolehan refleks yang bertanda.
biar mengapa,
yang namanya perasaan masih tak terduga,
peduli juga tak ada,
mungkin hanya candaan renyah yang tertanda.
biar mengapa,
cepat katakan aku hina,
di depan muka,
dan berjanjilah untuk tak mengenalku selamanya,
daripada masih membekas,
sekian tolehan refleks,
dan segumpal candaan renyahnya.
biarlah mengapa,
peduli juga sudah tiada.
cebi-13desember2008-bandung
tidak semua hal perlu diceritakan,
ada kalanya kita cuma perlu diam,
dan melihat keadaan sekeliling kita,
dengan itu kita akan tahu sifat mereka.
(dan tidak mengerti kenapa,
masih banyak saja yang kurang bersyukur di dunia.)
cebi-8desember2008-bandung-selamat hari raya Iedul Adha
goyah,
labil tertipu arah,
membelok sembarang tujuan,
tak tamu titik terang,
kamu,
melati penyibak bunga mendayu,
mengapa naik turun auramu?
membuat pusing merepuh bising,
dan segala menjadi samar,
mau tidak mau tidak mau.
lantas apa yang bisa kukerjakan sekarang?
cebi-7desember2008-bandung
sapu tangan sapu,
manyapu menangan merasakan kicauan kapak tangan.
sadarilah yang ada kini hilang,
dan lupakan,
bahkan lirikan yang lama telah terbakar guntur fana.
cebi-6desember2008-bandung
dalam sajak sajak yang telah kutuangkan hari lalu
kalian telah mengenalku yang bisu merajam diriku sendiri dengan luka
seperti tiada tanding saat luka itu mengalir dalam nadiku
menyesakkan paruparuku hingga mengempis
menanarkan mata dan membuahi halaman rumahku dengan bait roman yang pasar
terulang di bait sebelum dan sesudahnya
seperti terpuruk jatuh
namun saat semua selesai tereksekusi saat senja dua desember
aku kembali bernafas lega
ternyata sanggup menanggulangi lara
tak mengibaiba cinta
tak merebak satu tangispun karena banyak penawar luka yang seikhlasnya mengulurkan tangantangannya padaku,
seikhlasnya menerima aduan keluhku
para teman seperjalanan, sahabat dan saudara yang memapahku hingga aku dapat berjalan tegak seperti sekarang.
jua takkan pernah bosan terucap
jangan lagi ajak aku merindu lara
karena aku benar lelah adanya
shawq//jehan-4desember2008-jakarta
10.2.5-hanya untukmu.mulai bosan juga dengernya.
melodi lembut mengayun indah,
merepih keluhan bersandar asa,
dengan bintangbintang menuju satu.
pelita jiwa,
sadarkah akan yang dirasa ini rindu?
ini hanya untukmu.
hanyalah untukmu.
cebi-6desember2008-bandung
lima,
tersidang tajam,
kemelut berputar menyesakkan.
pedas,
dibumbui cercaan keras,
dan kecaman tingkat legenda.
disitu lima kepala beradu tiga,
dengan lima panorama,
dan narasi panjanglebarnya.
sedikit senang saat semua berpilih,
dan memuji sebagian,
walau hanya lumayan,
terbaik dari lima.
cebi-5november2008-bandung
buat hani yang baru putus, sedihnya jangan lamalama dong.
peluh berguncang di setengah jam terbelakang,
mengendara trem menuju tenang,
mengarah pulang belaian cinta tanpa tandingan.
kamu,
pria tak mengenalku,
mengapa rela meninggalkan mutiaranya?
kasihan dia dan lembar cintanya,
mengayun meredup benderang bercaci cahaya.
jika terluka,
atau hanya takut terluka,
jangan lihat kecewa dua babak belakang,
cukup jalani,
rasakan,
bahwa ini damai.
seikhlasnya,
kau beri rasa,
untuk membentuk kurva bahagia setidaknya.
cebi-2desember2008-bandung
kota perjalanan kota,
dengan jutaan rana,
dan teriakan bersama.
dua kumpul hingga bersama,
beradu riang menunggu derita,
di tengah sidang menunggu digta.
kicau bangunan tua,
dan sekian macam sepatu usang,
mengaliri tumpukan kekoran yang ada,
membakar imaji.
suara,
kumpulan kuas cahaya,
mengalir dan merenggut waktu sesama,
dan pribadi duka.
cebi-29november2008-bandung
setelah setahun berlangsung bersama,
suplai jiwaraga,
tawa gembira memacu sesama,
dan ceria menjadi temanya.
kini berlari telah tersampai,
kutat yang yang tajam kini berkulai,
sabtu yang menanti,
dua yang enam kini satu.
suplai jiwaraga,
mari kau datang dan nikmati,
dan rasakan satu itu dimana.
cebi-25november2008-bandung
selamat untukmu,
terulang tahunmu,
mendatangkan kebahagiaan,
menghimpit masalah baru.
selamat untukmu,
masih sampai waktumu,
walau banyak hal terlupa,
dan lain hal terduka.
akbar ilham manangkasi,
sadari tiap detil salahmu,
putar sudut pandangmu,
rubah pola pikirmu,
dewasalah.
kamu,
kisi melati tak sepenting itu untukmu,
lupakan kaum mereka sejenak,
fokus akan tindak lipatan bukumu.
jika bijak bisa berkata,
cukup nikmati sendirinya,
dan sadari bahwa tak sepenting itu adanya.
cebi-19tahun-20november2008-bandung
tenang,
masih ada yang terduduk untuk menunggu,
meski tak mengerti letak kesalahan dimana,
cebi-16november2008-bandung
nona tersedih,
muram rasa sudumu,
hingga aura menghitam,
tak memancar.
nona tersedih,
cukup disapa,
dan akan kucoba gambar senyumnya,
hingga terlupa.
nona tersedih,
jika risih kau rasa,
dan banyak nama tersebut bersama,
lantas aku bisa apa?
nona,
nikmati sisa hidup,
tak berguna mewarnainya dengan kesal dan airmata,
cukup senyum dan berpancarlah.
cebi-12november2008-bandung
tempat dimana abu abu mulai terbaca,
terlihat hitam atau putihnya,
dan ragu mulai tersapa.
kini sepuluh,
enam terlewat,
dengan banyak tanda tanya,
dan tanpa balasan tanya.
lipatan tangan,
topangan dagu,
kerutan dahi,
putaran rana,
hanya itu yang bernama teman.
sekarang,
pulikasi empat sempat terlihat,
disana ada,
kurun seminggu.
cebi-sedih-10nivember2008-bandung
tak sadar kesadaran tersadar,
memakan makanan termakan,
dan ternyata nyatanya kau nyata,
memakan sebagian kesadaran.
luka melukai lukaluka terluka,
terkurung kurungan mengurung.
engkau pertama.
sosok tersosok memerosok terperosok.
tahu kau arti singgah?
itu berbekas.
cebi-8november2008-bandung
# Each blogger must post these rules.
# Each blogger starts with ten random facts/habits about themselves.
# Bloggers that are tagged need to write on their own blog about their ten things and post these rules. At the end of your blog, you need to choose ten people to get tagged and list their names.
# Don’t forget to leave them a comment telling them they’ve been tagged and to read your blog
seseorang kerudung menandaiku. rey.
[sepuluh]
aku terlahir dengan badan gemukku,
besar membesar dan menciut belakangan,
hingga setiap perbuatan mempengaruhi segala.
[sembilan]
jatuhku kepada seorang beda,
entah dimata kalian tidak,
entah dimata kalian iya,
entah mengapa dimataku iya.
entah mengapa,
terlihat sejuk saja,
walau terkadang tidak.
satu kunci,
cukup lanjutkan percakapan,
dan ketahui sisi gelapku,
pundakku akan ada untuk tangisnya.
[delapan]
jika masalah memuncak,
bahkan menimpa,
pandanganku pada sisi lainnya,
mencari kebenaran menutupi kekurangan,
mungkin teranggap telalu ego jika pandangan begitu lurus,
kau tidak tahu angka dibelakang dadu tanpa memutarnya.
[tujuh]
aku memilih karena inginku,
mungkin ego yang terlalu sederhana,
kaos teratas dalam tumpukan,
sepatu terlihat pertama,
objek rana menarik awal,
dan semacamnya.
[enam]
takutku pada barisan motor yang menumpuk,
terkadang ingin duduk bersimpuh seraya memeluk lututku,
mungkin darah memenuhi paruparu hingga habis nafas,
dan denyut otak merusak pandangan mata,
hingga putih,
lalu terjatuh pingsan.
takutku pada tetesan darahku,
entah mengapa hanya darahku,
sungguh bodohku.
[lima]
penyesalan datang belakangan,
hal ini terbuat karena sadarku,
betapa sedih pernah menjadi melatiku,
romantis tidak ada padaku,
baket bunga terlewat,
ucapan manis terlupa,
bahkan perayaan bulanannya kadang tertinggal.
hanya penjagaanku yang dapat kujual,
nikmati sebagian hatiku.
tak hidup jika aku tak memiliki sebagian lainnya.
[empat]
citra teman mungkin dua,
aku dengan berantakku,
dan aku dengan rapihku.
memang terlihatnya itu,
sebelum kau mengenalku.
[tiga]
lakban hitam,
tidak mengerti kenapa,
tetapi dia memakan sebagian otakku,
hingga terfikir semua hal dapat dibuatnya,
hingga sekarang.
[dua]
hal terpenting pertama dalam hidupku adalah ibuku,
hal terpenting kedua dalam hidupku adalah ibuku,
hal terpenting ketiga dalam hidupku adalah ibuku,
hal terpenting keempat dalam hidupku adalah ayahku.
hal terpenting kesembilanbelas adalah hidup dan sejahteraku.
dan aku sangat menguasai makna kata penting.
[satu]
aku tidak sama.
bahkan aku bukan ayahku,
walau aku ingin seperti dia.
jangan samasamakan aku dengan siapapun,
atau aku akan menghapus namamu dari ingatanku.
aku adalah aku,
mode tidak ada dalam diriku,
jaket terbalikku,
tas berbahan sampahku,
sepatu rusakku,
merah kuning hijauku.
mungkin terlihat aneh dimatamu,
tak mengapalah.
yap. sudah beres. cukup baca lembar coklat ini dan semua hitam putihku terlihat. makasi rey yang udah maksa buat nulis ini. next target : dinoy, nesya, liris, ica(dhisa), hani, chika. enjoy it :D
cebi-7november2008-bandung
asam,
kecut,
apapun.
mungkin gagal mengatur emosinya.
atau memuncak tingkat konfusinya.
cebi-6november2008-sangkuriang
aturanpria,
dan tebilang jika tertantang,
maka disana akan tejawab.
aturanpria,
tak pernah terucap namun tertanam,
banyak jalan manuju roma,
tinggal pintarpintar kau mencapainya.
realize.
cebi-6november2008-bandung
jangan,
masih terlalu cepat untuk mengenal,
bahkan semalam masih ku tercengang.
terlalu tak pantas aku burukku,
rendah berbagai posisi tingkat,
biarkan berkembang.
jangan gegabah,
tunggu hingga ragumu menghilang,
dan mulai terasa bunga dan racunnya,
cebi-6november2008-bandung
cukup,
tinggal rubah warna lampunya,
dari hijau,
menjadi merah,
supaya terbaca.
cebi-3november2008-bandung
tersadar mengikuti irama,
nada mengguncang raga,
menggoyah serpihan bulu untuk tertawa bersama.
jalani hidup,
berbalik dentuman,
serta lantunan.
disini,
sekarang,
aku,
sendiri.
dan,
musik,
adalah,
separuh,
jiwaku,
sekarang.
aku terdiam sepi,
dibalik dentuman yang memekakkan,
sendiri,
dimalam ceria akhir paket tujuh hari awal bulan ini.
cebi-1november2008-bandung
*gombalan lainnya*
disaat ada seribu orang bersaing untuk mendapatkanmu,
tertulis satu namaku disitu.
disaat ada seratus orang bersaing untuk mendapatkanmu,
tertulis satu namaku disitu.
disaat ada sepuluh orang bersaing untuk mendapatkanmu,
tertulis satu namaku disitu.
disaat ada satu orang yang berusaha untuk mendapatkanmu,
itu adalah aku,
disaat tak seorangpun yang berusaha untuk mendapatkanmu,
saat itu berarti seluruh dunia menangisi kepergian dirimu.
cebi-1november2008-bandung
*requestan seorang teman. maaf kalau agak menjijikan*
[satu]
tersesat
suatu hari ku berjalan,
jalur meliuk gelap becabangcabang,
hingga tersesat ku didalam,
kemudian datang terang,
menggandeng erat menuju cahaya,
dan ketika sinar terpancar,
terlihat wajahmu disitu menuntunku.
[dua]
kaleng
seorang petualang pernah berkata,
dik, kau tahu cinta?
cinta itu seperti kaleng,
meskipun ia keras dan berbentuk aneh,
tapi ia memiliki sesuatu yang kau tidak tahu isinya.
[tiga]
musim
meskipun aku tidak meyukai musim semi,
tetapi masih ku mencintai bunga yang bermekaran.
meskipun aku tidak meyukai musim panas,
tetapi masih ku mencintai pancaran matahari yang menenangkan.
meskipun aku tidak menyukai musim gugur,
tetapi masih ku mencintai daun daun yang bergugran.
meskipun aku tidak menyukai musim dingin,
tetapi masih ku mencintai jatuhan salju yang menyejukkan.
meskipun aku tidak menyukai duniaku,
tetapi masih ku memiliki kau untuk ku cintai.
[empat]
bintang
disaat galaksi kehilangan gugus andromedanya,
disaat halley berfijir jatuh bintangnya,
disaat malam semakin sepi dengan taburannya,
aku menemukan dua bintang terindah baru di matamu.
[lima]
titip(pesan singkat)
sudah kau dapat titipanku dari bibimu?
kemarin aku datang ke rumahmu,
dan bibimu bilang kau sudah terlelap,
kepadanya aku titipkan sebagian hatiku untukmu.
[enam]
hujan
sempet berfikir betapa jahatnya dirimu,
datang dan hujani hatiku,
tanpa meyediakan payung untukku,
kini kau sejukkan jiwaku.
[tujuh]
peri
hai kau,
menurutmu siapa yang memberikanmu cinta?
aku bilang itu peri,
dan dia ada didepan hadapanku sekarang.
cebi-bandung-31oktober2008-bandung
tipis,
menyala kecil di awan berlangit hitam,
lantas gumaman terpanggil untuk akhir bulan.
entah biasamu apa,
namun kini sempit terasa,
tanpa pergerakan,
sedikit lantunan.
satu arah,
terjepit posisi,
bawahan melihat atasan,
tanpa hak dan penuh kewajiban,
dan dosa terus terakumulat berlainan.
terdiam,
tak mengerti sisa kekuatan,
terlalu banyak keringat terkuras,
mengerut hari terkikis keras,
beku lidah dengan berbagai acuhan,
dan kejam terus berputar didalam fikiran.
akhir bulan,
tertunduk kepala dengan ingatan tanya,
jika semula berawal dari tangisan bunuh jiwa,
harus ada jiwa yang terbunuh kemudian?
cebi-bandung-akhirbulanoktober2008-bandung
gelap terbunuh,
binasa.
berkaca sebulan kebelakang,
semenjak panggilan ibu kota menghadang,
dan takbir ramadhan berkumandang,
kamu berubah,
mungkin aku juga.
terhimpit ujian,
dan sorak wisudawan,
lupa menyulam benang,
dan ego bergejolak kencang.
aku,
bahkan bingung dengan jalurku,
yang cerah dan berujung di bulan lalu,
hingga kabut sosial mengabur pandangku,
dan hilang.
sapaan pagi menghilang,
frekuensi radio melemah,
putaran rodapun terhenti.
cebi-27oktober2008-02291873234-bandung
canda kaku,
dibalik kamar berkayu putih,
terlihat senyumseyum bahagia priawanita bersenang bersama,
mengabai segala.
canda kaku,
tertulis sedih dibelakang papan,
dengan citra terangnya,
mencatat dunia.
canda kaku,
bingung mengapa semua berubah,
kamu yang tadi berjalan bersama,
beralih haluan,
melupakan yang terbelakang.
kini pria dan wanita telah pulang,
ketikan berlanjut,
hingga berakhir putus asa,
dan sedih yang berkelanjutan.
cebi-26oktober2008-bandung
gugur masalah tertimbun senyuman,
seru teman berteriak kencang.
disaat tiap tunggal orang sibuk akan nota digital hariannya,
kapan ia benarbenar menjalani hidupnya?
lelah dokumentasi,
tuan dua puluh empat semestinya terguna,
bukan siasia meratap citra cahaya.
cebi-23oktober2008-bandung
tepat sebulan lagi,
setelah tahun lalu terulang sendiri,
dan putus asa masih menyelimuti.
tepat sebulan lagi,
setelah tahun lalu terulang sendiri,
dan seluruh kosakata habis tersurat disini,
tepat sebulan lagi,
setelah tahun lalu terulang sendiri,
dan seribu masalah telah terlewati,
dengan seribu masalah baru menanti.
tepat sebulan lagi,
semoga masih sampai umurku.
cebi-20oktober2008-bandung
dari beribu,
mengapa kau memilih orang yang salah?
terlalu nistakah?
terlalu kesalkah?
terlalu dendamkah?
masalah apa?
mengapa membuat lingkup semakin kecil kawan,
ingat, kita berteman karena seorang teman,
kita berkawan karena satu lingkup bidang.
disaat seluruh masalah memuncak dan menggalau seseorang,
disaat titik debu menjadi perkara yang besar,
disaat teman berada masalah dengan teman,
lalu kau datang?
hai kau,
tuan penarik segala,
tuan kepala bidang,
tuan tak kenal situasi,
tuan yang teragung,
perlu aku berganti pekerjaanku,
dan memperkenalkan beberapa melati untuk pilihanmu?
hai kau,
teman dari sahabatku.
setelah muak memuncak,
mati ada di mukamu.
cebi-20oktober2008-bandung
iris dagingnya,
hingga terluka.
membara merah membakar segala,
hingga tergaduh jatuh berabu.
cebi-18oktober2008-bandung
dingin ke panas,
tinggi ke rendah,
pria bercakap tekanan,
pria cengkrama bulan.
seraya kalor disangka panas,
terdengar jenis satuan beserta energinya,
cakap definisi,
dengan faktor persinggahnya.
turunan,
hasil perhitungan,
dengan prinsip perbedaan.
fungsi matahari,
neraca angin barat,
tentuan material,
dalam pukul satu.
cebi-17oktober2008-bandung
yang tidak sanggup terunggah.
rangkai gugur daun bergeming,
dengan sedikit teriakan hulubalang.
ada satu ada pemersatu,
ada pula gurauan berkata satu,
berbalik arah bertemu dusta.
peluh,
yang tidak sanggup terunggah,
entah malu entah binasa,
sungguh tidak sanggup untuk berucap.
bahkan mata dunia tumbuh berkecambah.
cebi-13oktober2008-bandung
melata aksara,
ulangan terakhir melanda jiwa jiwa kelana,
hingga berganti hari menunggu dering biasa.
melata aksara,
katanya jentik api bisa membakarnya,
katanya remah besi bisa mengikisnya,
katanya paruh tajam bisa mendoktrinnya,
katanya.
melata aksara,
lemari baru terangkai semata,
bermodal kelana beralas alam,
sajak berulang,
dengan jepretan di tiap langkahnya,
memori,
mengukuh langkah sang maestro telunjuk.
dimana kembang api malamnya?
cebi-13oktober2008-bandung
gempitahati,
menari disitu.
lantunan debu bermain mata,
menjelaskan utara,
dan pusaran anginnya.
kamu,
yang berputar di otakku,
mungkin kumengerti maksudmu.
melati maafkan aku,
bukan maksudku.
sempat berkata pohon itu berteman dengan daunnya,
dan api yang sangat kuat membakarnya,
hingga tanah terseret udara berteman daunnya.
cukup beritahu jika butuh lebih banyak spasi,
tolong,
beri petunjuk,
paling tidak yang sedikit menunjuk.
klise,
jika begini.
kini mohonku,
kau tahu ini terlalu,
entah masihkah ada,
bukannya semua hal ada awalannya?
cebi-10oktober2008-bandung
*dibuat 6 Oktober 2008
[woman]
jika cinta adalah segitiga,
rumusnya pun berubah.
hati terbagi dua sebelum diterimanya perasaan yang nyata.
[man]
jika cinta segitiga,
panjang lebarnya lantas kemana?
bukan itu yang tersohor bersama hati dan warna merah mudanya?
beserta colekan genit berbahasa desanya.
[woman]
dapat saja tertipu elok rupa dan warna,
kelabu rubah rona jinggamu,
dan jika elegi berkumandang,
akankah cinta mendapat porsinya sebagian?
[man]
hanya permainan ego,
serapah busuk bersilat bicara.
permen buah segar penutup rasa,
bukan memang setengah bagian terkali dua?
pesan singkat,
tiga setengah yang bicara,
pelangi dunia,
maya.
pelangi pelangi,
dimana indahmu?
[woman]
pelangi tujuh rupa,
munafikkah ia?
[woman]
habis permen gula yang terhisap lidah lidah yang mengurai kata menjadi satu esensi yang berbeda.
hei kenapa diam saja?
[man]
pelangi berwarna,
indah.
kenapa tujuh?
bukannya ada dualimaenam?
atau seratusempatpuluhsaturibu?
gula,
kenapa sebutannya manis?
karena esensinya?
[woman]
iya esensi segala rasa, segala kata dan imaji,
aku tahu pelangi itu indah,
tapi ruparupanya ia kelabu datang menyusup di bolamataku,
apa aku menjadi buta?
[man]
bukan buta,
hanya kantuk memakan cahyamata.
kalau cinta itu cinta,
niscaya dunia bisa ditenangkannya,
kalau cinta itu dunia,
lantas apa yangbisa menenangkannya?
[woman]
kau terlalu tinggi membawaku,
nalarku belum sampai p[ada buah fikir liarmu,
mencakar awan tuk tatap pelangi,
berikanku purnama agar aku kembali pulang,
peraduanku datang,
denyut nadi seirama yang akan menenangkannya,
sesaat membutakan jiwa dan matakita,
lalu kantuk dapatkah kau rayu?
[man]
haihai wanita disana,
sebentar kuantarkan lengkung bahagianya,
beserta harap yang seharusnya tiada,
tidak bisa purnama,
hanya ketikan jempol dan kata semuanya,
deru priawanita,
menyesal belakangan,
ketika ego membakar,
ketika punya saat telah tiada.
cebi-10oktober2008-serpong
[teruntuk semua yang sempat baca blog saya]
kenapa kalian harus berubah?
tambah ini,
tambah itu,
tambah jauh,
tambah tajam,
tambah kurang.
*14 Mei 2008 dalam pesan singkat.
[woman]
aku hilang,
dalam peluk,
kenangan yang jalang.
[man]
berpeluk menghilang dibawah payung lemon yang indah,
terbang terbang terbang tenggelam,
kayuh semua harapan.
[woman]
harapan punya siapa?
apakah digantung saja ya?
seruput lemonade dingin dibawah merawan yang teduh menjulang,
melihat lalulalang kendaraan.
dan terasa sepi... terus seperti ini.
[man]
konklusi mudah berbagai masalah,
lupakan saja,
dan semua akan baik saja.
masih teringat antena rumah tetangga sebelah,
lantai dua dengan kamar kosong disebelahnya,
dengan regan pintu hitam berbalik gudang.
[woman]
tak mudah melupakan karena sudah jadi fikiran,
walau saat ini amnesiaku mulai kambuh.
antena,
kamar,
pintu hitam,
?
itu ingatan siapa?
tinggal di neuron mana?
[man]
nostalgia burung yang berhinggapan,
hanya seperti yang kamu mau,
seperti layaknya fikiran yang terbang,
melayang terlalu tinggi,
tak memikirkan cara jatuh terbaik.
[woman]
ya kadang aku semaunya,
ingin berasakan kebahagiaan tuk terbang,
tapi tak ingin jatuh,
terkapar,
terluka,
tak ingin merasakan sakitnya.
dan jika ingatan ini hilang,
maukah kau memberikanku sebagian?
[man]
sudahlah biarkan hilang,
sudah kutitip gulali manis lengket disana,
lengket.
teringat derapan langkah,
menyentak kaget menuruni tangga,
sedang berseribu rasa di depan layar kaca,
sayang sudah pergi entah kemana dia.
cebi-8oktober2008-bandung-serpong
percik api terburat terang,
menyala.
keping kentang menemani malam,
menghilang jenuh.
silauan lampu petir menyala,
berharap menyapa rupa imaji.
keping kentang tetap menemani,
hingga larut semua larut.
jika kau bertanya,
belum pernah terlintas di dalam.
sedikit sesalan saat terdengar:
belum, mungkin.
cebi-21september2008-bandung
kenapa terus toreh luka?
bukankah suka lebih indah?
kenapa terus taruh suka?
jika paginya kau sebar luka.
kau taruh sebaranmu,
kau sebar taruhanmu.
jika indah kau rasa,
kenapa tidak mencoba fikirkan kebalikannya,
aku luka,
walau tiada ada yang kau rasa.
sayat menyayat,
kembali panah arah menancap,
tajam berduri kencang menusuk.
aku tak harap iba,
hanya berharap itu datang begitu saja,
dengan sedikit biasa,
dan nyaman sempat terbang di khayalan.
kebalku dengan tembokku,
sedikit kicauan pedang dan gesekan meriam tak akan menrontokkanku.
jangan taruh lengkungan sukamu,
jika keesokan pagi ada tetesan di lengkung terbalikku.
mengertiku dengan salahku.
cebi-19september2008-bandung
menyesal dibawah lantunan dering kuda,
tajam berarah menusuk,
sedih.
gelap terselubung dibawah payung maya,
terfikir apa,
ternyata bagaimana.
arsip lama apa kita bakar saja?
lalu mulai dengan senyumnya?
saya tahu saya,
mohon, jangan bilang kalau mau dibuang,
sedih.
cebi-18september2008-bandung
[satu]
wanitariang
wanitariang,
jangan berbalik mundur,
terkecuali memang ada berkata.
habis isi otakku untuk bicara,
kini hanya galau dirasa,
maaf lancang selalu kubicara,
wanitariang bertoreh kata bijaknya.
arah.
[dua]
bunuh bunuh semangat
seperti simpul massa pembawa tentara,
seperti bakteri pengurai menoreh bunga,
seperti berhala pembawa sesatnya.
tak lagi terdengar lantunan puisi dalam diarinya.
asam manis dan sebagainya,
tentang tiga bait pengisi amarah.
bunuh bunuh semangat,
satu kaliat tersampai sudah,
kini terbunuh, dan mungkin ini maksudnya.
[tiga]
ego ego caci
caci,
lontarkan hingga ia tersumpal di dadamu.
caci,
lontarkah hingga terputus kepalamu.
ego,
hanya itu modalmu berkuasa?
atau ingin kau wariskan kepada kami?
pembelajaran macam apa.
ego,
tunngu hingga arah yang mendahuluinya.
cebi-18september2008-bandung
[requestan rai. enjoy it]
berulang hari berulang suasana,
sempat berfikir dunia menyepi.
datang dan menyepi,
derapan langkahnya terlalu memuncak kini di hati,
tuhan, kini aku meminta,
jika cinta biarkanlah aku jatuh cinta,
salahku jika abaikannya.
andai turun cetak memori otak bisa terlaksana,
mungkin sudah kuhapus segala imaji tentangnya,
namun sayang sudah terbiar jadi sayang,
aku padanya.
terlalu lemahku menghampirinya,
terlalu hinaku disampingnya,
tipis mentalku ada memilikinya.
tuhan, ini harapku,
biarkan dia untukku,
temani malam hangatkan derapku,
derapan pasrah membunuh waktu.
cebi-17september2008dinihari-bandung
rai sori banget yah kalo gajelas puisinya. jam 2 pagi sekarang soalnya :D-nanti dibuatin lagi deh insya Allah
sisipan penguasa dibalik angkanya,
delapan hari,
dihitung mundur dari hari ini.
merasa bersalah tanpa tau kesalahan,
bertindak ramah dihati tidak,
berjalan saja tidak bersampingan,
bahkan mata sulit menatap.
delapan hari,
dihitung mundur dari hari ini,
tanpa kau tahu ada apa,
masi sudikah?
atau menyerahkah?
cebi-5september2008-bandung
bantu,
teriakkan teriakan riakan.
bulan suci menyuci diri,
bermohon ampun sebagai manik bumi,
tak berbangga, tak berbesar kepala,
aku makhluk hina.
bantu,
menggosok lumut batu.
bulan suci menyuci diri,
bersama bertahan hawa,
menghalau rasa.
Tuhan tolong bimbing hamba,
teriakkan teriakan riakan,
mencari tali merah menyalamu,
pembimbing si hina ini menuju surga,
menemui air putih segarmu,
pelarut dosa menjadi cahaya.
satu yang aku pinta,
jika aku belum layak menuju surgamu,
perkenankan aku merasa bulan di tahun berikutmu.
amin.
akbar ilham manangkasi-31agustus2008-bandung
[satu]
sore beranjak,
burung terbang mengelilingi kampus belanda,
dua aula menuju dua lembar cermin.
kelas termulai,
wirawan mulai bercerita tentang kewiraan,
hingga kata rancu aneh terdengar.
[dua]
sore beranjak,
gulingan selimut melingkar,
panggilan pertama dilewat percuma,
hingga panggilan mandiri terlontar,
memperjelas suasana.
kelas termulai,
kawan maafkan saya,
mungkin belum waktunya,
saya tidak melepas,
hanya membiarkan ini berjalan sebagaimana mestinya.
[tiga]
sore beranjak,
terimakasih diucap,
bukan untuk apa,
tetapi untuk bagaimana.
kelas termulai,
semoga kau tahu,
aku terdiam disini terpaku,
mungkin aku belum layak untuk terakhirmu.
[empat]
aku mau ini,
aku mau itu,
bahkan aku tidak diterima di badanku,
karena egoisku.
maaf,
bukan maksudku untuk begitu,
bingung merajut kata berjala kalimat,
kawan,
ini egoisku,
meminta sesuatu,
lentera penerang agarku bisa melihat,
jalanku ataupun tuntunanmu.
cebi-29agustus2008-bandung
meratap beratap,
berbaju kehijauan.
bermodalkan lampu cahaya,
dan seciprat mesin perekan imajinya,
bermain citra.
terbungkus boneka babi,
berbahan kayu,
dengan selempang bali bertuliskan emasnya,
terimakasih sebesarnya.
belum sempat bercengkrama,
meratap beratap memanggil suruhannya.
sebenarnya terpisah oleh apa?
origamikah?
mengapa menatap?
mangapa beratap?
mengapa meratap?
meratap beratap,
abstrak terdengar ditelinga.
cebi-sumpah ini gajelas banget-20agustus2008-bandung
sajak senja bertalu,
memanggil kumpulan terseleksi.
sekecil menangis memojok sedih,
si penguasa bertolak amarah.
hai kau kecil,
aku penguasamu,
memerintahmu,
memakan semua hakmu.
sampai suatu saat peradilan datang,
penguasa mendapatkan ganjarannya.
berdusta,
bermain kata didalamnya,
sesekali berteriak dalam pidatonya,
aku penguasa.
turun,
kata ini lebih cocok untuk siapa?
kecil berbicara,
mari kita lihat siapa yang tertawa terakhir.
penyesalan datang belakangan kawan,
la tahzan.
cebi-10agustus2008-bandung
tidak berani keluarkan teriakannya,
takut dimarahi seperti hari kemarin,
dikatai terlalu baik,
dan hanya bisa terdiam,
termenung meratapi tindakan,
semoga saya bukan dia,
yang mengatai hidupnya menjijikan,
dan tidak pernah hidup didalamnya.
cebi-7agustus2008-bandung
(satu)
buntu,
ujung jari didepannya.
sudah lama tidak bersua,
hingga lambai pohon tak terhela juga.
kepak burung pun sering terlupa,
dibelakang indeks kartu pertanda.
musik menari,
aliran bergema,
kita tertawa.
satu kata yang dulu terucap bersama,
pudar,
termakan lencana,
teroreh hijau keemasan.
esok kita bersama,
bermain irama,
membongkar imaji beramai.
pria managi tetap bersama,
membakar hati,
dia yang terpilih.
(dua)
buntu,
ujung jari didepannya.
pria managi tetap bersamanya,
tipis kering tertiup angin.
kacamata besar bergaya lama,
dengan ikatan rambut ala kuda.
pria temaram dalam duka,
membakar hati,
menunggu keputusan.
esok kita bersama,
berimaji suka,
kwartet sempurna.
siapkan kertas putihmu,
kita mulai permainan barunya.
cebi-2agustus2008-bandung
suatu hari datang wanita materi,
bertanya siapa mengapa kenapa,
bermain imaji,
bertemu layar film memutar.
berteman wanita materi,
bermain adegan bermacam emosi,
tulisan script pun terlakoni,
lelaki listrik menemani.
daun mengering,
ranting berjatuh,
asa termakan,
waktu berjalan kini,
berawal semua terasa indah,
gertakan hati pun tercerita ke saya,
kalian bahagia,
banyak senyum tertoreh disana.
sempat tersurat ajuan komitmen dari saya,
terlewat.
senang sedih tawa duka,
lelaki hilang dengan praktek praktek kerjanya,
listrik dengan elektroniknya,
materi dengan pesan singkatnya.
hingga terakhir,
candaan biasa menjadi persepsi lama,
satu kalimat terfikir,
betapa tidak dihargainya.
materi goyah,
menungggu akhir dari permainannya,
dua pilihan untuknya,
membunuh konsolnya dan putus asa,
atau berusaha mencari keping permainan baru,
bernama komitmen.
cebi-30juli2008-bandung
ayu jangan desperet dong. pasti ada jalan keluarnya ko yu. kip smailing pren
sempat berfikir sebuah dongeng teman tidur,
hanya tolakan terdapatkan.
sempat berfikir terlalu tinggi,
takutku jatuh dan termakan janji.
tak ada lagi apa yang kupunya,
hanya pembawa peruntungan kecil terselip,
membawa bahagia untukku,
itupun hanya rasanya.
cebi-25juli2008-bandung
kemarin,
22 juli 2008,
pukul 9 lewat 45 menit.
sekarang,
22 juli 2008,
pukul 9 lewat 45 menit.
besok,
22 juli 2008,
pukul 9 lewat 45 menit.
semua tangisan berakhir,
gumaman tawa pun ikut berakhir.
tolong biarkan itu berlanjut.
maafkan aku,
terlalu kecewa rasaku,
beritahu bila salah perumpamaanku,
semoga pertemanan memang jalannya.
ingatkan aku terhadap janji terlupaku,
biarkan senyum tetap tertera disitu,
jangan lari,
aku buat ini untuk kamu.
andai saja kamu tahu,
aku menangis disini,
maafkan aku untuk beribu kalinya,
terasa sangat cepat semester bersama kita,
mati kata aku untuk mengungkapnya,
meskipun kau tahu apa yang aku ingin ungkap.
terimakasih untuk semua kenangan manisnya,
terimakasih untuk pembelajarannya,
terimakasih untuk senyuman ikhlasnya,
dan lambaian pemisah kita.
maafkan aku.
hari ini,
dua puluh dua juli dua ribu delapan,
pukul sembilan lewat empat puluh lima.
semua terulang seperti sebelumnya,
semoga hari kita menyenangkan.
cebi-20februari2008-22juli2008-bandung
berteriak menanyakan progress,
bertelefon memastikan semua,
imaji panik pun terbentuk sengaja.
berharap semua berjalan sesuai rencana,
derap langkah kencang ditambah syukuran penyemangat,
seruan yel seru terdengar.
mengumandangkan salam terbaik,
hingga terulang hingga tergema,
mencengangkan khalayak awamnya.
wahai juli,
kami bertanya,
bagaimana progress kerjanya?
sampai terasa rangkulan ketua,
dengan ucapan polosnya,
this is the best.
cebi-20juli2008-MestinyaKontrolBehelHariIniCumaGabisaPulang-bandung
tidak mengapa hobi terbiar begitu,
tidak mengapa kepul dapur tak terlaksana,
tidak mengapa sedikit janji juga terlupa,
tidak mengapa pesona jakarta tak pernah tetinggal.
satu yang tidak tertolerir,
kenapa sangat mudah dilepas begitu saja?
kenapa sangat mudah terlepas begitu saja?
kenapa sangat mudah melepas begitu saja?
kenapa sangat mudah lepaskan begitu saja?
aku,
kamu fikir apa?
aku,
sungguh kecewa,
sudahi saja,
lupakan alibi hari kemarin.
cebi-17juli2008dinihari-bandung
aku keluar bukan keinginanku,
keadaan yang mendesakku.
sirine kepolisian dan kicauan senapan perang siap beradu,
mengatasi si tolol memenuhi hasratnya.
aku hanya korban,
segala cemoohan kudapat,
tak perlu semua tahu,
mungkin kau juga akan mencemoohku,
melupakan hingga membuang begitu saja.
aku keluar bukan keinginanku,
maafkan aku.
sorry, i'm quit.
cebi-17juli2008dinihari-bandung
besok pagi pukul enam,
berkumpul semua mengutarakan rencana.
pagi besok pukul enam,
bertarung teriakan dan raungan klan masingmasing.
pukul enam pagi besok,
memasang rana membagi pekerjaan.
besok pukul enam pagi,
mensimulasi proyek besar penjepit tigaribu massa.
pagi pukul enam besok,
tidak tahu harus berkata apa lagi.
cebi-11juli2008-bandung
penjepit malam,
keluar mendekam.
memang gaya seseorang,
mengulang mengulang imbuhan,
tak menuliskan tanda baca,
mengganti koma dengan apa yang ada.
penjepit malam,
berseru serang.
datang menusuk kekeliruan,
mengganti kekecaman menjadi keamanan.
seruan kuat tangguh lantang didengar,
hai kamu, komadani pasukanmu,
serukan yel kebanggaanmu,
hingga salam identitasmu.
penjepit malam,
hanya euphoriamu saja?
kami manusia merdeka.
cebi-10juli2008-bandung
koak terdengar kencang,
menarinari hinggap diatas batu tulis itu,
dengan kaki bergetar kencang.
teriakan marah keluar dari mulut indah,
berkaret berbesi tajam,
lalu mereka dibilang prakasa.
tertib, tertib, tertib, dan kami pun tertib,
pandangan tajam tanpa senyuman,
satu hal terpenting yang diajarkan.
hawa dingin bukan halangan kalian dik,
kamu pun merasakan.
merancang pukul tiga,
akan diapakan kami disana?
hanya mereka yang mengerti apa arti pukul tiga.
cebi-7juli2008-bandung
memperhatikan dari belakang,
mengajarkan kesigapan,
berharap semua datang,
kata turun pun diturunkan.
seruan yel peperangan diteriakkan,
ilmu rancang bangun bertudungkan kehitaman,
sempat terdengar gemericik pembatas buku pujaan,
mengapa semua datang tak ada yang menyangkanya.
lingkar biru menempel,
lingkar hijau kupakai,
satu hal yang menghubungkan,
jepretan kamera dan labelnya.
sebentar aku pulang,
nanti kita bekerja bersama,
berharap semua bisa bekerja baik,
aman.
tudung hitam bertudung,
mari mari berkunjung.
cebi-4juli2008-bandung
maju maju kau terbelakang,
tuntunanmu sudah hilang.
terlalu berharap kau dari sinaran penghitam,
hingga pincang tak jelas kemana sisa tetes semangat,
jalan masih panjang kawan.
kini pilihan hanya menjadi dua.
kau datang dengan baju perang,
atau kau perketat peganganmu dengan terus berharap pada sinar hitam.
maju maju kau terbelakang,
sejak awal kau sudah ku tunjukkan.
penyesalan akan selalu datang belakangan,
dan semua terasa percuma disetelahnya,
asalkan kau tidak terlarut disana.
ketika kedewasaan dipertaruhkan,
dan tua menjadi kemutlakan,
bentuk diri sempurnakan hayat.
maju maju kau terbelakang,
jangan hanya berpegang menunggu ajal.
menghitung mundur ajal,
mengejar ajal,
atau dikejar ajal.
ini pilihan.
cebi-26mei2008-bandung
semua janji terucap sudah,
tak terulang sebagian seluruhan,
kamus kamus berbahasa tipis termakan.
kesalahan tak terulang,
dicoba,
semoga saja.
cebi-26mei2008-bandung
lontaran cerca keluar sudah,
beban demi beban kau suarakan,
tapi dimana letak peradilan?
layaknya buruh yang mencari perlindungan,
lantaran burung yang menghindari sinaran.
kami tidak butuh omongan dan cercaan,
kami hanya butuh peradilan,
siapa yang bisa tunjukkan kami peradilan?
masih bangga kalian dengan barang curian?
cebi-10april2008-bandung
saya kamu saya kamu saya kamu,
berbalasan karmina,
berteriak,
berbisik,
berpegangan,
bercanda tawa,
menggila.
cebi-2april2008-bandung
menindas kaum lemah memakai nama kewenangan,
membodohi mereka seakan tak ada yang mengertinya,
memangnya kami tidak tahu,
kami mahasiswa,
kami sudah tahu mana yang benar dan tidak wahai senior.
cebi-30maret2008-bandung
selalu dicoba mengudang meriam,
yang datang hanya dentuman.
selalu dicoba mengundang senyuman,
yang datang hanya lambaian.
ini lebih baik lagi,
jika yang datang kamu,
benar kamu yang saya mau.
kuundang kau.
cebi-30maret2008-bandung
perang emosi, perang hati,
terkatup kata, terkatup makna.
sekarang tak ada lagi teman beradu kata,
bekerja mengirim picisan otak ke media,
tak bekerja bersama.
sudah tidak terasa pena singkat elektronik seperti biasanya,
dering dering tertawa bersama,
hilang.
marionet bertali hijau yang biasa dimaini bersama,
pergi entah kemana,
hilang.
mari beradu kata lagi teman,
aku menunggu.
cebi-30maret2008-bandung
mengajar ilmu satu ruang,
di segala bidang,
mengatur letak mengukur posisi,
skala prioritas terterap didalamnya.
ibuku yang mengajarkan aku tentang ilmu satu ruang,
bergerak bebas tata kata bersinggah.
rambut terikat bersama senyum penggembira,
masihkah bisa menerima?
ilmu satu ruang ajaran ibuku?
cebi-29maret2008-bandung
pabila ragu kau padu dengan bahaya,
celaka maka kau dapat.
pabila naif kau padu dengan arogan,
otorit maka yang kau dapat.
pabila lambaian kau padu dengan kepergian,
tangisan maka yang kau dapat.
pabila cinta kau padu dengan nafsu,
kau maka tak akan mendapat apaapa,
hanya benang merah tipis pembatasnya.
cebi-29maret2008-bandung
suatu hari pemuda berjalan menuju surga,
menatap putih dengan segala cahaya.
bertanya ada apa didalam sana,
ia hanya mendapat senyuman sang penjaga.
saat ditanya masalah pengabdian ia terpana,
ia mengira selama ini dia sangat berjasa,
tetapi ternyata hanya brutonya yang ia rasa.
masih terlalu banyak ketercelaan di dunia
cebi-29maret2008-bandung
bertindak sebahagian tangan,
berlaku kuat bagaikan kanaka medimudra,
atau hanya seorang kanoman.
daya pupus tenaga terhapus,
kini kekuatan menghilang seketika,
terbang tertiup fajar dan laras panjangnya.
siapa penguasa sebenarnya?
siapa pengurus bagian ini?
siapkan tentara,
hajar si benalu kuning itu,
biarkan belati silver itu juga manghujam langitnya,
memetamorfosa si pengusa kanaka medimudra.
cebi-29maret2008-bandung
berjuang untuk berharap,
berharap untuk berdoa,
berdoa untuk berbahagia.
ibu, kini hari sudah tiba,
saat semua perjuangan terbayar,
saat semua tetes keringat berubah menjadi permata,
saat ini kami bahagia.
masih teringat tiap liter tinta pena,
masih teringat tiap ribuan ketikan jari yang terlelah,
masih teringat tawa gila teman sebaya,
masih teringat teriakan semangat ala mahasiswa.
ayah, kini hari sudah tiba,
untuk pertamakalinya kami mengundangmu,
sedikit berusaha agar kalian bahagia,
sedikit mengetahui perjuangan pejuangmu disini.
berjuang untuk berharap,
berharap untuk berdoa,
berdoa untuk bahagia.
disini kami ditempa,
membaui guncangan dan tantangan candu kami,
membaui hujan seruan semangat,
sungguh salah satu dari seribu hal yang kuinginkan.
mari berbahagia hari ini,
terimalah rayuanku ayah,
doakan kami di sepanjang nafas,
jagoan nakalmu sudah manjadi sarjana sekarang.
cebi-2maret2008-bandung
buat wisudaan, semoga kepilih, amin
Pernyataan cinta,
bersibak malu menunggu waktu.
menyegarkan suasana terunduh teh hangat.
cebi-20februari2008-bandung
man:
keping coklat kepingkeping,
senyum wanita dengan wajah manisnya,
seolah membawa surga diantara lidahnya,
keping coklat di tawarkan kepadanya,
berharap dia tersenyum dan menghibur hati yang berkurang nafas,
menyusun mozaik merah membentuk drama,
kepingan hati.
senyum wanita dengan kaus bali nya,
menutup mulut sulit berkata,
tuliskan cinta,
berkeping coklat hanya dapat terlayang,
tak tahu sadarkah mereka berdua,
permainan apa yang sedang mereka singgahi?
atau bunuh konsolnya,
sehingga memecah kepingkeping coklat hingga kepingkeping.
woman:
keping cinta merah tua,
membawa lara dibulir airmata,
mereka hidup diantara surga,
ruang semu yang tak berirama,
mereka bermain, mereka tertawa,
mereka bicara hati yang tak terucap kata.
man:
beranak sapi berbagi rumput coklat,
ku mau coklatbukan merah tua,
bulubulu lembut dibalik raungan rasa,
layaknya kelinci berbalut serigala,
ataukah serigala berbalut kelinci?
tak pernah ada airmata disini,
hanya doktrin sesat dari sang penyesat,
bisikan setan dari tuan setan,
sugesti hangat dari cinta.
woman:
apakah kau bagian dari mereka?
atau hanya seorang pengagum doktrin tua?
doktrin yang menjamah pikirmu hingga tumpah semua rasa,
tak terkendali, hingga airmata turun sendiri,
tanpa ada rana yang menyelimuti.
antara serigala dan kelinci?
mereka lawan bukan?
biarkan mereka yang menentukan sendiri siapa yang kan mati.
dan ku,
aku hanya punya merah tua,
karena coklatku sudah habis jadi purnama.
Man:
aku hanya kunangkunang,
menngantar keledai kembali terselungkup ke lubangnya,
dan kembali menarinari dalam tangisan,
tak mengerti kenapa,
penyesalan datang belakangan,
tak usah tangisi bulan yang hilang,
nantipun kan kembali menyapa,
menarinari,
redup,
dan kembali terus menari.
cebi-januari2008-onSMS
cebi dengan teman begajulan,bergilagilaan kata,dengan sedikit editan
menyerbak maut,
mengusik getaran,
bertaju dengan riang.
menyerbak maut,
bantu untuk bertahan,
dibawah kekangan senioritas cercaan.
cebi-1februari2008-bandung
benang hijau pengikat segala,
ikatkan kaki ikatkan tangan ikatkan hati,
berulang kali mencoba mengurainya,
berlaku kosong merekat di nadanya.
benang hijau pengikat segala,
bukan dia bukan pula mereka,
mengapa semua menjadi serumit ini?
sedihan sedihan itu yang mengawalinya.
benang hijau pengikat segala,
mengapa begitu cepat ini terasa,
dari sini berubah menjadi ini dan seterusnya,
bingung harus berawal dari mana.
benang hijau pengikat segala,
aku bukan selembar tong yang tak ada isinya,
bahkan aku sangat mengerti apa itu peribahasa,
ibuku yang mengajariku genap waktuku sekolah.
benang hijau pengikat segala,
semakin lama ia juga semakin merasa,
gemericik nada homogenic mengalun di telinga,
berlabuh melantun berikatkan benang hijaunya.
benang hijau pengikat segala,
mengapa daun melapas dari dahannya?
apakah ia bosan dengan rantingnya?
ataukah ia diusir oleh rantingnya?
benang hijau pengikat segala,
bantu aku melagu nyanyianku,
melangkah maju menyaingi buritanku,
bertolak gembira soraian bersama.
benang hijau pengikat segala,
jangan mau kau terganti olehnya,
lakban hitam lebar yang melapis segalanya,
mulai kakinya, tangannya, hingga hatinya.
benang hijau pengikat segala,
dimana dirimu menempatkanmu?
ataukah hatimu yang menjalankanmu?
mendaki duka hingga terlihat suka,
menutup luka hingga terlihat suka,
mengurai gulana hingga terlihat suka.
cebi-17desember2007-bandung
[pertama]
fokus!
fokus,
tidak ada mimpi yang terlalu sulit untuk tidak bisa diraih,
kamu memiliki tekad,
kamu bisa,
hanya kurang ada kepercayaan disana.
bantu lalui waktu,
hela nafas pekat pembawa lukamu,
dengan serbet pengelap keringatmu,
semua bisa,
hanya butuh fokus didalamnya.
[kedua]
pejuang kamera terakhir
rela kau melepas citraan itu,
berlarilari bertabrakan dikampusku,
pengerja tugas berakhir candu.
dengan kacamata berbotol obatmu kau bekerja,
melawan debu menghembus dedaunan,
melihat segala dari segala pandangan.
teruslah engkau bersemangat wahai pahlawan kamera terakhir,
tidak ada yang memandangmu buruk disini.
cebi-15desember2007-bandung
it's raining.
I hate riding motorcycles in the rain.
it's wet and cold.
suddenly, we ride into a tunnel.
there is no wind nor rain.
the yellow light makes me feel so warm.
even thought i know the tunnel isn't the end of my journey.
and I'll be back into the rain soon.
but I'm still grateful for the passing warmth.
thank you, tunnel.
aku gabutuh semua yang ada di televisimu,
aku cuma mau orang yang ikhlas ngambilin handuk aku dari tas aku,
cukup hanya itu,
CebiDesperateLagi-8Desember2007-bandung
payung berpilah di tanggal delapan,
membuka lebar menutupi putri yang terhujani,
kokoh ia melindungi kedipan emas sang permaisuri.
limabelas lembar kertas stiker terbeli,
mengagungkan payung beralaskan kuning,
hai kau putri merah, lindungi dirimu.
menyanggah bola basket yang memantul kencang,
bertarung memperebutkan suara terkuatnya,
berlatih bersemangat dibawah payungnya,
payung emas pelindung air penyuara.
cebi-8desember2007-bandung
satu itu sempurna,
melayang tinggi melangit langit bercahaya,
siapa yang tidak sempurna?
aku rasa tidak ada.
bulan itu sempurna,
berputar-putar berkeliling mediteran disana,
siapa yang tidak sempurna?
aku rasa tidak ada.
es krim itu sempurna,
bersolek dingin mengantar senyum ke segala,
manusia tidak pernah diciptakan sempurna?
aku rasa tidak juga.
aku ini sempurna,
punya mata hidung telinga dan lainnya,
hanya satu kekurangan yang kupunya,
yaitu aku tidak memiliki kelebihan satupun.
cebi-1desember2007-bandung
semua manis menyerap belasannya,
mencoreng kopi berkuda sayap,
dengan tanduk emas yang mulai menyala.
bukan aku takut terhadap kopiku,
hanya gula yang berusaha menghiburku,
untung ada gula,
untung saja.
mungkin gulaku hanya mempermainkanku,
mengajak aku dalam kebahagiaan,
lantas menjatuhkan dengan sayap dan tanduknya,
bahkan kudanya pun dengan sigap membantunya.
aku mengerti gulaku,
bahkan gula di kopiku,
ia mengalun berlagu bahagia,
tentang tabrakan kecil sang pahlawan pembawa suka,
serta guguran daun dari batang selai coklatnya.
perdu menyanyikan lagu,
aku hanya terdiam galau disampingnya,
tepat disampingnya.
cebi-29november2007-bandung
kenapa dengan parkirnya?
gaduh merusak-rusak keberanian,
merasa materi masih bertebaran,
struktur penyusun masih berputusan.
kenapa dengan parkirnya?
penuh tersesak menjejal puyuh,
oak berkicauan mengotori lahan,
lesu simpangan beraneka egoisme.
kenapa dengan parkirnya?
aku ingin mengantarnya kesana,
sejenak berubah bentuk menjadi pusat perhatian,
aku si pahlawan kebenaran serial televisimu.
kenapa dengan parkirnya?
tidak mengharap banyak hal lainnya,
hanya mencoba menawarkan jasa,
berharap semua berubah cepat.
cebi-25november2007-bandung
semua teragung kemarin,
detik bahagia terucap sendu,
deru deru senja menangis kencang ditelingaku,
berteriak bergemuruh bertabrakan.
tongkat penyuluhmu mulai tertancap disaat itu,
menyinggung daun yang kekal termakan waktu,
deru deru senja terenyuh melihat kelabang itu,
menghujam kata merajut nada.
kenapa hujatan itu mengayun padaku?
merusak kalbu melekat syahdu,
deru deru senja masih memutar tuasnya,
mencoba menyusun bagian perbagiannya.
hai kamu, apa salahku?
lantas kau merasuk terpatri tak terhapus.
kau menderu berputar didalamku,
tak tahu membantu atau merusakku.
deru deru senja masih mengalir,
sampai kapan ia bertahan dengan mainannya?
sudah jenuh kawan?
jangan tanya status senjamu terhadapku,
karena aku akan mati terbunuh untuk menjawabnya.
cebi-22november2007-bandung
[pertama]
tidak terasa
tidak terasa,
rambut sudah menua,
tidak terasa,
kawan bertambah,
tidak terasa,
konflik memuncak,
menuju peruraian antar perasa.
masi berapa sisa umurku?
[kedua]
kenapa?
kenapa di duapuluh ini aku masih tidak berani juga?
mana kado istimewa berhias pitaku?
pasang rencana,
tantang semua,
tapi mengapa danau masih mengguncang?
aku sendiri disini,
masih merayakan ulangtahun sendiriku ini.
[ketiga]
get happy bro(short message from the oldest sister)
get happy my bro, wish you all the best from here, happy lonely birthday, just go home and we celebrate it together.
cebi-20november2007-bandung
rambut menua,
sajak tentang orang tua pun menghilang,
semua berubah menjadi keegoisan semata,
sapa suaramu kembali kawan,
sudah lupakah engkau dengan suaramu?
apa hanya ada kata 'aku' dikepalamu,
aku, aku, aku, aku, dan aku!
redup api egomu kawan,
kau akan terlihat lebih manis tanpa itu,
sapa suaramu kawan,
atur materimu,
rasuki segala titik partisi atomnya,
rasakan,
rasakan,
rasakan dukaku kawan.
kalian temanku,
aku tidak bisa berkata apa apa,
emosipun takmungkin termuka,
kalian temanku kawan.
CebiKiraBakalanAdaYangMauKasiHadiahUlangTaunKeCebiBuatNemeninCebiKeJgtc-CebiLagiKecewaParah-18november2007-BandungMemangAnjing
coba,
tanyakan pada pria itu duka yang menimpaku,
coba,
tanyakan pada rangkaian do fa sol duka itu,
coba.
pernah kau melihat laguku?
kini nada do ku hilang,
pernah kau melihat laguku?
kini nada fa ku hilang,
pernah kau melihat laguku?
kini nada sol ku hilang.
mana musik jazzku?
terbilang hilang tertiup gemerincingan,
mana musik jazzku?
terbunuh mati diterkan pengkhianatan!
dunia pasti akan jauh lebih indah tanpa penghianat didalamnya
CabiLagiEmosi-18agustus2007-bandung
kamu akan aman disini,
surat itu,
lagu itu,
air itu,
semua kan memadu,
meniti langkah menuju ragu,
melangkah randu didalam senjamu.
dengar kicauku hai dara,
sayap putihmu sudah melayang disini,
cengkram kakimu melaut memanja,
patuk lemah paruhmu mengalun merasa.
cebi-16november2007-bandung
[pertama]
sang pembelajar
tahukah kamu apa maumu?
tahukah kamu apa maunya?
bersimpuh kudaku di tembereng pantai,
berlutut daunku di gemericik langkah.
apa maumu sang pembelajar?
sini aku berikan sedikit,
kenangan indah bersama,
sementara.
[kedua]
antara bibir dan langit langit
antara bibir dan langit langit,
tautan pisau menyambar-nyambar.
antara bibir dan langit langit,
rotasi hidup salah-menyalahi.
aku lelah dengan semua ini ayah,
kenapa semua tiada berguna,
tangis wanita tersucipun kau tak menggubrisnya,
ingat umurmu ayah,
tiada guna kau merasa sekarang.
antara bibir dan langit langit,
hanya ada inikah?
[ketiga]
kapan baiknya
kapan baiknya tertuang semua?
sekarangkah?
esok harikah?
lusakah?
atau tak akan pernah?
sang pembelajar menutup semua,
seakan semua menari riang gembira.
aku ingin bersama,
ingin,
tapi...(dia ?)
cebi-15november2007-bandung
siapkah kamu jika sekarang?
menoreh pesta mengilusi senada,
aku terlalu payah untuk bisa menemani,
atau hanya mentalku saja yang lemah?
ah tidak, aku memang payah.
CebiPayah-10november2007-bandung
[pertama]
if i(jika aku)
hold me in your arms,
take me with your breath,
biarkan jagat raya menjalankan tugasnya,
goreskan luka pada tiap hati manusia.
hold me in your arms,
take me with your jokes,
biarkan pecahan cahaya menjalankan tugasnya,
tuliskan suka pada tiap hati manusia.
hold me in your arms,
take me with your soul,
biarkan rotasi angin menjalankan tugasnya,
taruhkan imajinasi pada tiap hati manusia,
hold me in your arms,
take me with your rose,
biarkan fusi serangga menjalankan tugasnya,
torehkan cinta pada tiap hati manusia.
andai aku bisa tunjukkan padamu suatu hari,
you will see sunshine in my eyes,
dan disaat itu juga aku tersenyum,
hingga terbunuh terkujur kaku disana.
[kedua]
aku tidak (suka) aku
aku tidak suka aku,
aku bukan aku yang ini,
aku yang dulu bukan aku ini,
ini bukan aku,
aku bukan aku,
aku tidak suka kata aku,
aku bohongi aku,
aku bunuh aku,
aku tidak (suka) aku.
[ketiga]
renggut (lelakilemah)
kenapa rela kau renggut semua?
sisakan sedikit kawan,
untuk lelakilemah ini,
hanya sedikit untuk menyambung nafas,
sayup sayangmu cukup buatku hidup,
jangan kau renggut semua kawan,
lelakilemah tak mampu hidup karenanya.
cebi-dinihari9november2007-bandung
tertutup kapas,
tertutup nafas,
terhalang tangan,
terhalang angan,
tersumpal nasi,
tersumpal gengsi,
tersumbat cahaya,
tersumbat bahaya,
bungkam,
termakan ego.
CebiEgois-8november2007-bandung
lagu itu mimpi?
lagu itu gelap?
bukan, itu hidup yang terang.
sayap itu kecil?
sayap itu patah?
bukan, itu besar dan kuat.
this is my hands,
this is my song,
this is my tears,
this is my wing,
let me hold you fly with me.
menuju sana,
kesana,
cebi-8november2007-bandung
(short message)
realize baby, please, I can't say many things to you,
aku cuma mau kamu sadari itu,
cebi-6november2007-bandung
jangan,
jangan ditendang kaleng itu,
masih layak ia merasa senang.
jangan,
jangan dilempar kaleng itu,
masih layak ia mengadu sayap.
itu hanya kaleng bengkok sayang,
tak usahlah kau pikirkan,
lebih baik yang sepuluh nanti,
bersama siapa kau berada,
bersama siapa kau berdiri,
bersama siapa kau meraya,
bersama siapa kau menangis,
CebiPengenPulangKeRumah-6november2007-bandung
melapis wajah menutup merah,
obati luka,
menggambar wajah melukis hijau,
senangi hati.
jangan pernah kau layu,
jangan pernah kau merah,
jaga hijau tetap merona,
bukan hitam, bukan emas,
tapi hijau!
hijau!
selamat datang losion hijau.
cebi-6november2007-bandung
muda mulai menua,
tua menahan rasa,
tua melawan kata,
tua mengecam rasa,
masih berlakukah kopi itu?
masih berasapkah uap itu?
jawab aku!
masih adakah kopi beruap itu?
cebi-4november2007-bandung
[pertama]
tujuh
kenapa harus tujuh?
tak pernahkah kau jelajahi waktu?
ragukah kalau ku genggam tanganmu?
inginkah kau kenang harimu selalu?
kenapa tujuh jadi sepuluh?
salah hari?
salah kesempatan?
kenapa menyalahkan mereka?
[kedua]
sepuluh
aku bersama siapa sepuluh ini?
tiga kemarin aku sudah sendiri,
dikalahkan raungan kota jakarta,
dikalahkan cahaya monumen agung,
aku bersama siapa sepuluh ini?
nampaknya tidak ada yang berfikir untuk bersama,
kenapa harus begini,
kenapa aku menjadi minoritas disini,
huff...
[ketiga]
delapan belas
kicauan musik mangadu disini,
di delapan belas ini,
aku ingin datang bersama mereka,
aku kamu dia kalian kami,
aku mau melepas semua bebanku ini,
bantu aku teman,
hibur aku di delapan belas ini,
aku meminta tolong kalian,
[keempat]
dua puluh
aku hanya berharap ada yang masih memikirkan aku di dua puluh ini, sekedar penbungkus coklat beserta ucapan, sekedar korak lakban berikut sumbutan, haruskah kujalani duapuluhku ini sendiri? terlalu banyak yang kuharapkan di duapuluhku kali ini, kamu, kamu, kamu, kamu, kamu, aku tahu itu tidak mungkin, hanya berharap saja masih ada yang memikirkan aku, ah, tidak usah berharap terlalu banyak kau nak!
cebi-4november2007-bandung
terakhir ini?
atau ini terakhir?
cuma mentari ini yang mengakhiri,
hanya cahaya bulan yang menutup bulan,
aku masih disini,
menatap bulan baru,
berharap ia menatapnya jua,
ditemani tetes rintik iba,
merajut damba ditengah mereka,
berharap mendapatkan sebuah,
hanya untuk menemani,
menenangkan hati yang galau ini,
cebi-31oktober2007-bandung
[pertama]
desperate(short message)
andai saja kamu tau, aku desperate hari ini, aku tidak bisa apa apa, bahkan untuk bangun pun aku tak bisa, tolong bantu aku, tolong, aku mohon..
[kedua]
putus asa
tak kuat menahan asa,
tak letih berkabung malu,
aku tak mau yang seperti ini,
tapi mau apa lagi,
yang kudapat hanya putus asa,
tak mampu lagi ku berpuisi,
putus jariku untuk menulis,
putus lidahku untuk bicara,
putus asaku untuk merindu,
menggaduh asa didalam rasa,
[ketiga]
cuma satu
kawan, berikan aku jalan,
aku tak tahu harus bagaimana sekarang,
sudah terlalu jauh kumelangkah bersamanya,
sudah terlanjur asaku bersamanya,
sudah sangat banyak hatiku untuknya,
aku tak tahu harus bagaimana sekarang,
terlalu banyak yang menggangguku,
fikiran,
resiko,
sahabat,
asa...,
aku memang cuma pecundang,
pengecut yang hidup tanpa keberanian,
bantu aku kawan,
berikan aku jalan,
cuma satu yang aku minta sekarang,
berikan aku jalan,
jika kau tak bisa memberitahuku jalan sekarang,
paling tidak kau tunjukkan padaku tanda itu,
aku tau kau pasti tau apa itu,
CebiLagiDesperate-29oktober2007-bandung
berniat menyelesaikan ujianku,
berniat mengganggu makananku,
gelisahku karena paksaan mereka,
gelisahku karena gunjingan mereka,
pengecutku,
pengecutku,
kenapa aku tidak berani mengungkap rasa?
padahal ia sudah merasa jua?
hanya di bukit salam malam ini kubersamanya,
memadu rindu menjadi asa,
berusaha menghibur diri kubersamanya,
bukit salam pengubah malam,
rembu purnama pun menghujanimu,
salamku untuk bukit malamku,
andai kamu tak terhenti malam ini
pengecutku,
egoisku,
aku!
cebi-27oktober2007-bandung
bantu aku disaat layuku,
angkat aku disaat terpurukku,
tahan aku disaat jatuhku,
ajari aku cara berfikirmu,
layuku karena fikiranku,
terpurukku karena sifatku,
jatuhku karena bodohku,
cara berfikirmu? aku pun tidak tau,
maafkan aku tidak mengurusi blog ini, aku sedang ujian tengah semester di universitasku, dan nilaiku sangat buruk! doakan supaya nilaiku membaik, membaik, dan membaik lagi, huff..
cebi-25oktober2007-bandung
[pertama]
memberi sedikit saja
aku cuma memberi sedikit saja,
mencoba menyenangkan hati,
menawarkan jasa tulus ikhlas kuberi,
cuma mengharap senyuman kecil,
aku suma memberi sedikit saja,
tapi apa yang kudapat?
sedikit komentar saja tidak,
aku cuma mengharap senyuman kecil,
[kedua]
pengecutku(aku si pengecut)(cerita hadiana)
baru sampai di pintu pertama di hari pertama masuk di kampusku, belum sempat aku menaruh beban bawaan lantas pria berpotongan sedang memakai jaket putih datang kepadaku, ia mendekat hingga dia didepanku, lantas dia berkata,
"bi, aku mau cerita, aku lagi gantungin bini aku,"
"kenapa bisa?"
"bini aku selingkuh,"
"ha? sama siapa? gamungkin"
"sama mantannya yang dulu jadian 2 tahun, dia uda jadian lagi, trus ketauan sama aku, trus dia minta maaf gak aku kasih bi,"
"ih, ko parah banget? emang kamu gak jagain ya?"
"dia deket lagi saat kita liburan, aku lagi gak sama dia saat itu"
"yah mau diapain lagi, lepas lah"
"dia mau sama aku, katanya masih sayang banget"
"bohong! kalau sayang dia gamungkin kayak gitu, tapi gak ada salahnya kalo kasih kesempatan kedua buat dia, toh mungkin dia khilaf na"
"iya juga yah, yauda nanti aku kasi dia kesempatan, tapi tetap saja aku gak akan maafin dengan gampang"
"siplah, itu urusan kamu"
dan setelah itu tibatiba aku merasa takut, tidak tahu kenapa, seperti akan merasakan hal yang sama, huff..
[ketiga]
impress(short message)
i'm just trying to impessing you girl, never trust me more than you trustin your dog, i'm only trying, thankyou my sweet,
cebi-22oktober2007-bandung
bersenanglah (kau) kawan,
selama matamu masih terbuka lebar,
bersenanglah (kau) kawan,
selama kakimu masih menopang kuat,
bersenanglah (kau) kawan,
selama materimu masih berkuasa,
bersenanglah (kau) kawan,
selama aku masih dipandang sebelah mata,
bersenanglah (kau sekarang) kawan,
kita lihat siapa yang tersenyum terakhir!
cebi-21oktober2007-bandung
[pertama]
ingat nak!
pernah seorang guru berkata saat masih berumur sekolah menegah atas, "sekarang kamu boleh marah kepada kami semua, sekarang kalian boleh mengolok kami semua, sekarang kalian boleh tidak menghargai tiap tetes keringat kami semua, tapi disaat kamu semua sudah sukses dan bangga akan dirimu di kemudian hari, kami yakin bahwa kami adalah orang pertama yang akan kamu lupakan dari hidup kamu", dan satu kelas merunduk menyadari kesalahannya.
[kedua]
prosa guru
prosa tentang seorang guru yang tetap terpancang tegar dalam tugasnya, suatu hari ia menyesali hidupna yang dikalahkan waktu, entah tak jelas mengapa hingga ia berkata: "aku menyesal, gemulai angin menghembus dedaunku, riak sungai menghempas langkahku, dan semilir kabut menghalangi langkahku..", tak jelas ia berkata karena usianya, tak tegar langkahya karena usianya, tak tegak punggungnya kaena usianya, tetapi semangat mengajarnya tak legam karena usianya, hanya ada satu penyesalannya yang ingin ia sampaikan, entah itu menggunakan bahasa tubuhnya untuk mengungkapkannya entah pula bahasa lidahnya yang sudah sulit manusia awam mencernanya,
"kenapa bapak masih mengajar?"
"ini karena kalian nak,"
"karena kami mengapa?"
"kalian adalah semangat saya"
"apa yang bapak harapkan dari kami?"
" bapak ingin kalian tidak menyesal seperti bapak"
"kenapa bisa bapak menyesal?"
...dan ia tidak berkata apa-apa, aku sendiri tidak tahu apa yang disesalinya, akhirnya kami bersalaman, berpamitan, lima langkah sudah aku berjalan, lantas aku menoleh karena dipanggil olehnya, hingga ia berkata dengan suara lemahnya dan keseriusan hatinya:
"ingat nak, penyesalan datang belakangan, dan selalu seperti itu"
...aku hanya bisa diam dan tersentak beberapa saat, kemudian baru aku bisa melanjutkan langkahku.
[ketiga]
cerita SD(ini hanya sebuah cerita[saduran])
cerita waktuku masih di sekolah dasar,
gundah selalu datang saat pengumuman akan datang ujian,
aku belajar mati-matian,
aku belajar sepanjang hari,
sepanjang malam,
mengesampingkan segala kegiatan,
setengah hatiku diambil untuk terus berlatih,
saat soal dibagikan aku makin gusar berharap aku dapat menyelesaikannya,
saat kertas jawaban dikumpilkan perasaan gundah gusar gelisah berkumpul dan memuncak,
tetapi saat nilai dibagikan aku baru sadar bahwa rasa gundahku tak ada gunanya hungga sekarang,
gundahku tak menaikkan rangkingku,
gundahku tak memperbaiki nilaiku,
gundahku tak memperindah rapotku,
dari situ aku tersadar bahwa tah ada gunanya aku merasa gundah saat aku ujian.
cebi-21oktober2007-bandung
tepat sebulan lagi tahunku berulang,
masih sampaikah aku?
sudah delapan belas genapnya,
penyakit ini masih menggerogotiku,
masih sampaikah aku?
bahkan antibodiku sudah habis dimakannya,
tepat sebulan lagi tahunku berulang,
masih sampaikah aku?
cebi-20oktober2007-bandung
(semua terjadi saat itu)
(dan terus menunggu)
(sehingga menulis daripada waktu terbuang)
[pertama]
hate(short message)
i hate you because you're the only one that means to me,
the reason why you hate me coz i;m the only one thats means to you.
[kedua]
taman makan I
kain pelukis melukis wajah,
kuas oanjang berajah suci,
akankah kain itu terbagi?
kain tertulis warna,
kuas bertulis rasa,
meja mengaku dusta,
pramusaji pramusaji berbalikan,
konsumen berpin bulat berdatangan,
siswa perschool mementaskan kesenangan,
menuntaskan kesepian,
keluarga satu-persatupun pulang,
aku masih tetap duduk sendirian,
memandangi awan buatan,
mendengarkan irama lautan,
spanduk bertebaran,
menggeming tawarannya,
ditemani seniman,
ditemani senyuman,
aku masih tetap duduk sendirian.
[ketiga]
awan
kau melukis langit,
kau menutup surya,
kau melambung atas,
kau menyeru bahagia,
kau cerah kau gulita,
kau sendu kau tertawa,
kau melihat segala dari sana,
kau mengaduh menderu mengeluarkan energi terkuat pembentuk makhluk,
kau melaut kau menggunung,
kicauan angin membawamu terbang,
suaramu menjilat mengarung segalanya,
suaramu mengayun menggoyang segalanya,
kau melukis langit,
kau menutup surya,
andai saja aku berdua sekarang, >,<'
[keempat]
lirik
lirik gundah berbahan asa,
lirik malu berbahan rasa,
lirik sendu berbahan karisma,
lirik mata berbahan pesona,
lirik cinta berbahan airmata,
[kelima]
aku bisa apa?
berharap itu dia,
bukan! itu bukan dia!
terus berharap itu dia,
bukan! itu bukan dia!
masih terus berharap itu dia,
bukan! itu bukan dia!
kemudian mencari dimana dia,
dan menganggap dia ada di muka,
bukan! itu bukan dia!
aku bisa apa?
[keenam]
jalan lain
menghitung peruntungan,
menghalalkan yang haram,
berdusta dengan tampilan,
mengharap sesuatu yang diluar batasan,
merebut semua dengan paksaan,
memaksa semua dengan ancaman,
mengancam semua dengan siksaan,
menyiksa semua dengan kekersan,
tak adakah jalan keluar yang lain?
tak adakah jalan yang lain?
adakah jalan yang lain?
jalan yang lain?
jalan lain?
[keenam]
taman makan II
pria bersenangan,
beradu teman,
memanggil sahabat,
melahap santapan,
wanita bersenangan,
mencari pesanan,
memadu sayang,
duduk berhadapan,
aku sendiri,
menunggu orang datang,
sahabat hati penenang jiwa,
sedang gundah terantuk masalah,
andai saja semua tahu,
minuman jumboku menemaniku,
berimaji makanan,
bermimpi kesegaran,
aku jauh terbelakang,
tanpa mendapat giliran,
aku terjauh dibelakang,
dikelilingi orang-orang yang tak menghilang rasa,
aku kesepian ditengah keramaian,
aku sendirian diantara beribu pasangan,
aku gundah mengunggu pasanganku,
hai! damana kau perempuanku,
aku menunggumu disini,
mengunggu untuk menenangkan hati gundahmu,
menunggu untuk dapat memanggul bebanmu,
aku menunggumu sayang.
cebi-20oktober2007-bandung
happy birthday yudi, semoga kau baikbaik saja di jerman, asri menunggumu disini
bodohku dengan malasku,
bodohku dengan malasku,
bodohku dengan malasku,
aku butuh gambaranku semalam,
paling tidak untuk menyenangkanku sebentar,
cebi-19oktober2007-bandung
[pertama]
relung(milik keponakanku)
mimpiku adalah nyata,
aku hidup dalam mimpiku,
lepaskan semua imajinasi dunia,
meraih segala ikhtisarnya,
hari demi hari kusambung mimpiku,
itu alasan mengapa kau tak dapat melihatku di dunia nyata,
duniaku adalah maya,
aku tak dapat hidup di sana,
hampa mimpiku mengalahkan oksigen dunia yang terhirup,
putih awan mimpiku menutupi langit biru dunia,
tapi ku tidak bisa berlamalama di mimpiku,
karena sebutir debu pun bisa membangunkanku
[kedua]
prosa lagu
suatu hari kuberjalan, bermodalkan niat dan seonggok kecil uang recehan dari retakan celengan yang dapat terambil, diluar kutemukan tantangan, diluar kutemukan harapan, diluar kutemukan lekukan, batu-batuan, bandungan, batangan perindang yang tumbang, diluar kutemukan kumpulan besar cinta, ah, itu cuma gumaman saja, semua kulewati, semua kulangkahi dengan hitungan jari, hanya air yang dapat membasuh laguku, hanya bulan tempat bicaraku, hanya kunang teman setiaku, tanpa uang aku dikucilkan, tanpa karisma aku dijauhi, tanpa ilmu aku diremahkan, diluar kutemukan hal baru, akankah itu membantu? diluar kutamukan hujan, maukah ia menemaniku lagi? tanpa baju, tanpa dosa, tanpa sahabat, tanpa cinta, ah kata itu lagi, hanya tersisa rambut yang makin memanjang dan menua, hanya air tempatku melagu, mencari jatidiriku, berpuitiskah aku? hanya merangkai kata ditemani awan, hanya melagu sendu bersama buih soda, rangkul scarf pun memeluk erat berharap menyembuhkan penyakitku, suatu hari kuberjalan, bermodalkan niat dan seonggok kecil uang recehan, keping demi keping kuperoleh dari laguku, tak lupa ku dengan airku, kepul-kepul rokok teman sebaya, tawa-tawa canda para pasangan bersayang, sepoi-sepoi angin kipas berhembus ceria, tanpa baju, tanpa uang, harus terus berpuitiskah aku agar dapat hidup? lalu bagaimana dengan laguku dan airku? kubaru menyadari hidupku berjalur, hanya butuh mengalir seperti air, dan bertemu laguku di masa depan, lagu tentang wanita penenang jiwa...
[ketiga]
wanita warna(hanya sebuah gombalan kecil untuk wanita[kamu]
disaat itu kumelihat seorang wanita,
penuh canda,
penuh warna,
penuh cerita,
ia mengertiku,
tak mengerti apa yang kurasa tapi rasanya ini cinta,
mungkin sulit untuknya jua merasa,
mungkin sulit untuknya jua tergetar,
kubarjalan bersamanya,
berdua,
langkahku didepannya,
ia mengiringiku dibelakang,
lalu kamu berpegangan tangan,
dan aku menyadari kalau ia disampingku sekarang,
suatu saat ia berlari mendahuluiku dengan senyumnya,
dan pada saat aku melihat punggungnya aku baru menyadari bahwa tidak semua bidadari memiliki sepasang sayap,
tetapi tetap ia bidadari dalam mataku,
[keempat]
mungkin hanya kebetulan saja, mungkin,
rangkaian tisu,
hijau ke hijau,
berusaha menyamainya,
dan tak pernah menyangka ternyata kau yang mengganti,
banyak cerita kau terima,
banyak ceria kita tertawa,
banyak cara ku terima,
hari berlalu,
badai terik terhempas,
tetap rute yang sama kita lewati,
lantas ku tak menyadari kaulah yang mengganti,
berjam berminggu berbulan bertahun bersama kurasa,
aku hanya bisa tertawa saja,
mungkin hanya kebetulan saja, mungkin,
cebi-18oktober2007-bandung
....pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebjakan dihadirkan dihadapannya, begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya, begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia menginginkan seandainya antara dirinya dan hari itu ada masa yang jauh....(QS. Ali-Imran:30)
....barangsiapa melakukan kebaikan seberat zarah niscaya dia akan melihat (balasan)-nya....(QS. al-Zalzalah:7)
....sesungguhnya akhirat itulah kehiduan yang sebenarnya....(QS. al-Ankabut: 64)
....Oh, alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan peintah) Allah ini....(QS. az-Zumar: 56)
....barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya(sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sunguh pahalanya akan tetap ada disisi Allah....(QS. an-Nisa':100)
....belum berimankah engkau? (Ibrahim) menjawab, Tentu aku sudah mengimaninya, tetapi (semua ini) untuk menentramkan kalbuku....(QS. al-Baqarah:260)
....sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (Yaitu) orang orang yang khusyuk dalam shalatnya....(QS. al-Mukminun:1-2)
....hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian haramkan hal-hal yang Allah halalkan bagi kalian, dan janganlah kalian melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Makanlah makanan yang halal lagi baik yang telah Allah rezkikan kepada kalian, dan bertawakallah kepada Allah, Tuhan yang kalian berima kepadaNya....(QS. al-Maidah:87-88)
dan masih banyak lagi yang terus aku telusuri, aku hanya bisa menyadur, tak akan ada yang mungkin menandingi syair milik-Nya.
cebi-09oktober2007-serpong
Sungguh, derap langkah kami tak akan sampai ke altar suci-Mu. Sungguh, uluran tangan kami tak akan mampu menggapai tali Uns-Mu. Sungguh, hijab-hijab syahwat dan ghaflah(kelalaian) telah menutupi pandangan kami dari melihat keindahan-Mu yang Maha indah. Sungguh, tabir-tabir ideal cinta dunia dan perilaku syeitan kami telah menjadikan kalbu-kalbu ini lalai dari bertawajjuh(menghadap) kepada-Mu. Sungguh, jalan akhirat sangatlah licin dan jalan kemanusiaan amatlah tajam, sementara kami yang mengenaskan ini terjerat dalam sarang laba-laba pikiran dan renungan yang tak berarti. Sungguh kami kebingungan bagaikan ulat sutera yang terus memintal buluhan syahwat dan angan-angan hingga kami terjerat sendiri di dalamnya. Inilah kami yang sangat jauh dari alam gaib dan gelanggang Uns-Mu.
Yaa Rabb, terangilah mata hati kami ini dengan berkas Cahaya Ilahi dan tariklah kami ke sisi-Mu dengan keberkahan-Mu. Ampuni aku Yaa Rabb, bersikan aku dalam fitrimu kali ini, Aku bersimpuh lemah dihadap-Mu ya tuhanku, ampui aku.
Uns=berarti suasana kemesraan, keakraban. para ahli makrifat dan irfan seringkali menggunakan istilah ini untuk mengungkapkan suasana perjumpaan makhluk yang merindu dengan Pencipta Dambaannya
cebi-09oktober2007-serpong
sudah cukup semua penyesalan sampai disini,
sudah cukup semua semua kegalauan sampai disini,
sudah cukup kubunuh semua hal ini,
sudah cukup,
sudah,
cukup,
aku hanya ingin bertemu ibu,
meraba sepi,
dalam rajutan mandiri,
mata terbuka,
lidah bersiap,
seluruh senjata mencari posisinya,
sigap,
menanti seluruh serbuanmu,
dalam tekanan waktu,
sigap!
emang guna harus kasar?
emang guna harus jahatin balik?
emang guna harus sedih sampai toba mengering?
emang guna harus temui the better than the other?
emang guna keluarkan kata hinamu?
emang guna keluarkan leceh untuk hidupku?
emang guna keluarkan wajah terbodohku?
emang guna keluarkan aib terburukku?
siapa peduli mba,
penyesalan datang belakangan...
cebi-03oktober2007-bandung
bertengkar,
memberi harapan,
melihat,
mengarak bahagia,
bercerita,
dongeng harapan,
apa semua harus beginikan aku dulu?
cebi-03oktober2007-bandung
cukuplah elektrikus itu berkata,
sesak otakku menerimanya,
cukuplah elektrikus itu berkata,
ketika empat orang tersisa,
aku, kamu, dia, dan dia,
cukuplah elektrikus itu berkata,
meski jum'at kita beruji,
meski jum'at kita bersua,
meski jum'at kita beradu,
cukuplah elektrikus itu berkata,
berilah ia penyegar raganya,
pembasuh jiwanya,
pembersih hawa nafsunya,
nafsu yang membunuh keinginannya
cebi-02oktober2007-bandung
Maaf ya aku plagiat,
aku tidak bisa memikirkan bentuk dasarku,
Maaf ya aku plagiat,
karena aku akui milikmu bagus,
Maaf ya aku plagiat,
aku juga mau apa yang kamu rasakan,
Maaf ya aku plagiat,
sebenarnya aku ingin seperti kamu,
jadi seorang panutan aku,
(blog ini tercipta dari blog orang, aku cuma menggandakannya, sebagian)
cebi-02oktober2007-bandung
ini itu ujian ini itu,
ini itu belajar ini itu,
ini itu menghafal ini itu,
ini itu berlatih ini itu,
ini itu bekerja ini itu,
ini itu bermain ini itu,
sampai suatu saat mereka dihantarkan dengan sesuatu,
ini dan itu uji ini dan itu,
cebi-01oktober2007-bandung
kutantang kau dengan riak hujan,
kutantang kau dengan badai topan,
kutantang kau dengan terik siang,
kutantang kau dengan kicau malam,
kutantang kau dengan indahnya malam seribu bulan,
akankah ini menggantikan?
riak hujan itu indah,
asalkan kita merasakan tiap tetesnya,
deru angin itu menyenangkan,
asalkan kita merasakan tiap hembusnya,
terik siang itu indah,
asalkan ada kepak sayap penghilang panas,
kicau malam itu indah,
asalkan ada api hangat dalam hati kita,
malam seribu bulan itu indah,
bahkan tak ada kata untuk mendeskripsikannya,
akankah ini menggantikan?
cebi-01oktober2007-bandung
kita berlari mengitari waktu,
meresapi musim dan mengenang harum kopi yang kita minum,
tak fikir cinta,
tak ingat rindu,
karena kita bersama selalu,
romanroman yang mengikutimu tak buatku risih,
dan rana yang berdarah pedih yang ada padaku pun tak jua kau peduli,
walau air mata merangkak dalam diam,
dan rasa tak datang berpulang.
(sma, putih abumu tak akan kulupa...)
cebi-01oktober2007-bandung
relung waktuku berjalan,
kau pengisi ruang kosongku,
aku memiliki jalurku,
jalur yang menunjukkan jalan hidupku,
jalurmu pernah bersentuhan denganku,
jalanku menyinggung jalanmu,
cebi-01oktober2007-bandung
berhisap,
berhembus,
berbau api di sekitaran,
selintingan rokok rasa cola,
bercampur tawa mereka,
melupakan tangisan sebelumnya,
melupakan dosa di sekitarannya,
selnting rokok rasa cola,
berteman dengan alkoholnya,
bermabuk bersamanya,
melupakan dunianya,
selintingan rokok rasa cola,
mungkin itu sudah seperti kebutuhanku akan shalat baginya.
cebi-01oktober2007-bandung
aboutme.tentangsaya
- akbar ilham manangkasi
- makassar.tangerang.bandung, Indonesia
- aku yang selalu menyesali perbuatan aku. aku yang selalu merasa kekurangan. aku yang hampa akan keahlian. aku yang tidak bisa bertindak apa apa. aku yang menyesal selalu di belakang.
